Perginya Sang Singa Podium

Di tengah perubahan zaman, warisan seorang kiai akan benar-benar hidup apabila diteruskan melalui kerja pendidikan yang bermutu, bukan semata-mata melalui penghormatan seremonial kepada pendirinya.

Karya Singa Podium

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, figur kiai sepuh memiliki kedudukan yang melampaui usia dan jabatan formal. Mereka dihormati karena perjalanan keilmuan, pengabdian kepada umat, hubungan dengan jaringan ulama, serta kemampuannya menjadi tempat bertanya ketika masyarakat menghadapi persoalan agama dan kehidupan.

KH Syukron Ma’mun merupakan salah satu figur senior yang dikenal dalam lingkungan NU dan dunia pesantren. Pengabdiannya memperlihatkan bagaimana seorang ulama dapat berperan melalui dakwah, pendidikan, pembinaan masyarakat, dan keterlibatan dalam persoalan publik tanpa seluruh kontribusinya harus diukur melalui jabatan struktural organisasi.

Penting untuk membedakan dua hal: kedudukan seorang ulama dalam tradisi sosial-keagamaan NU dan jabatan formal dalam struktur kepengurusan NU. Keduanya dapat saling berhubungan, tetapi tidak selalu identik. Arti penting Kiai Syukron dalam obituari ini terutama terletak pada pengabdian keulamaannya, jaringan dakwahnya, dan keterlibatannya dalam dinamika umat Islam Indonesia.

NU sendiri tumbuh dari tradisi pesantren, penghormatan terhadap mata rantai keilmuan, dan pengembangan paham Ahlussunnah wal Jamaah. Dalam perjalanan sejarahnya, NU juga menghadapi persoalan besar tentang hubungan antara agama dan negara, tradisi dan modernitas, serta idealisme keagamaan dan kebutuhan praktis kehidupan politik.

Kiai Syukron hidup dan berdakwah dalam ruang sejarah yang penuh pergulatan tersebut. Ia dikenal sebagai pendakwah yang menegaskan pentingnya pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah. Ia juga menulis mengenai persoalan keagamaan, antara lain melalui karya Risalah Pemantapan ASWAJA (1988), Riba dan Bank (1995), dan Apakah Bid’ah Itu? (2007).

Karya-karya tersebut memperlihatkan perhatiannya terhadap persoalan akidah, fikih, dan praktik keagamaan masyarakat. Bagi dirinya, dakwah bukan hanya persoalan retorika, tetapi juga menyangkut bagaimana umat memahami ajaran Islam dan menentukan sikap dalam persoalan yang dihadapi sehari-hari.

Dalam tradisi NU, perbedaan pandangan keagamaan dan politik merupakan kenyataan yang tidak dapat dihapus begitu saja. Para kiai memiliki pengalaman, lingkungan sosial, pilihan strategi dakwah, dan pertimbangan politik yang berbeda-beda. Keragaman itu merupakan bagian dari sejarah panjang organisasi dan masyarakat Muslim Indonesia.

Karena itu, menghormati Kiai Syukron sebagai ulama sepuh NU tidak berarti menganggap seluruh pandangan atau pilihan politiknya mewakili setiap warga NU. Justru kedewasaan tradisi NU terletak pada kemampuannya menghormati pengabdian para ulama, sembari tetap membuka ruang bagi pembacaan kritis terhadap gagasan dan keputusan mereka.

Kiai sepuh dihormati bukan karena pemikirannya harus ditempatkan di luar evaluasi sejarah, melainkan karena pengabdiannya memberi bahan bagi generasi penerus untuk belajar tentang ilmu, keteguhan, tanggung jawab, dan batas-batas kekuasaan. Dalam konteks itu, warisan Kiai Syukron patut ditempatkan sebagai bagian dari kekayaan pengalaman ulama Indonesia yang berusaha membawa nilai-nilai Islam ke tengah kehidupan masyarakat.

Tinggalkan Balasan