Sebagai pelukis yang juga dibesarkan di lingkungan Nahdliyyin, Badrie merasa harus melakukan sesuatu. Sesuatu yang mampu membuat kondisi bangsa Indonesia tetap adem, guyup, dan saling mengayomi. Saat itu terbitlah ide untuk membuat museum visual tentang Nahdlatul Ulama.
Sayangnya, Badrie tidak memiliki relasi dengan keluarga Tebuireng. Padahal idenya sudah dituangkan dalam konsep museum visual KH Hasyim Asy’ari. Beruntung, Badrie segera bertemu dengan seorang kawan lama, Yusuf, yang merupakan alumnus Pesantren Tebuireng. Setelah menceritakan gagasannya, Badrie diajak sowan ke Pak Ud, sapaan akrab KH Yusuf Hasyim yang ketika itu menjadi Pengasuh Pesantren Tebuireng.

Ternyata Pak Ud menyambut baik gagasan Badrie. Saat itu, Pak Ud juga merasakan ada mata rantai yang terputus dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam pertemuan yang terjadi pada 1998 itulah disepakati perlunya dibuat museum tentang NU. Prosesnya diawali dengan visualisasi ikon NU berupa visualisasi sosok Mbah Hasyim. Maka, dimulailah pekerjaan untuk melukis sosok Mbah Hasyim yang menggambarkan karakter yang teduh dan mengayomi.
Sayangnya, ketika itu, referensi tentang gambaran visual Mbah Hasyim sangat minim. Hanya tersedia foto buram Mbah Hasyim berukuran kecil di Majalah Muslimun. “Sangat tak memadai untuk dijadikan referensi lukisan figuratif,” ujar Badrie.
Karena terbatasnya dokumen visual, Badrie akhirnya melakukan riset kurang lebih selama lima tahun. Selain keterangan dari Pak Ud dan keluarga Tebuireng, Badrie juga melakukan wawancara dengan banyak orang yang mengenal langsung Mbah Hasyim. Setelah merasa cukup, Badrie kemudian melukis wajah Mbah Hasyim di atas kanvas.
Dikerjakan selama sepekan, begitu jadi, lukisan tersebut kemudian dibawa ke Pak Ud untuk ditashih. Pak Ud mengangguk setuju. Tapi untuk makin memastikan kemiripan wajah Mbah Hasyim dalam lukisan tersebut, Badrie kemudian memotretnya, dan membawa berkeliling untuk ditashih oleh orang-orang yang pernah mengenal langsung Mbah Hasyim. Termasuk, ditashih oleh KH Muchid Muzadi, kakak KH Hasyim Muzadi yang pernah menjadi santri Mbah Hasyim.
Menurut Badrie, berdasarkan keterangan dari banyak orang yang mengenal langsung Mbah Hasyim, wajah dalam lukisan yang dibuatnya tergolong “sahih” sebagai wajah Mbah Hasyim. Hanya ada satu catatan kecil, hidungnya kurang persis. Maka, Badrie kemudian melakukan “revisi kecil” hidung Mbah Hasyim dalam lukisannya.
Sayangnya, ketika lukisan tersebut masih dalam proses “operasi hidung”, pada 2003 mulai beredar foto-foto Mbah Hasyim bersurban hijau seperti yang dilukis Badrie. Entah siapa orang pertama yang memproduksi dan menyebarkannya. Yang pasti, foto-foto tersebut bersumber dari foto lukisan yang dibuat oleh Badrie untuk ditashih. Sejak itu, terjadi posterisasi foto Mbah Hasyim bersurban hijau tersebut dan beredar luas di masyarakat dan menjadi ikonik.
“Tapi hidungnya tak sama persis dengan lukisan aslinya setelah saya koreksi,” ujar Badrie. “Saat ini, lukisan aslinya masih saya simpan di rumah,” tandas Badrie.
Jika didasarkan pada keterangan hasil wawancaranya, hanya ada satu hal yang ditambahkan sendiri oleh Badrie dalam lukisan tersebut: surban warna hijau. Di zaman KH Hasyim Asy’ari, surban warna hijau belum ada atau belum lazim. Badrie kemudian menambahkan warna hijau pada surban Mbah Hasyim karena hijau merupakan simbol NU. “Itu murni ide saya,” ujar Badrie.
Penangkapan Mbah Hasyim

