Itu berarti, menurut Badrie, Mbah Hasyim merupakan sosok yang rasional dan penuh perhitungan. Ketika Resolusi Jihad diumumkan, dengan sendirinya akan terjadi peperangan. Hal itu sudah diperhitungkan oleh Mbah Hasyim. Karena itulah, Mbah Hasyim mempersiapkan diri dengan latihan menembak.
Mungkin karena alasan itu pula, ketika beberapa kali ditanya, misalnya, apakah selama proses melukis Mbah Hasyim, Badrie mengalami hal-hal spiritual atau sejenisnya? Seperti mimpi bertemu atau didatangi Mbah Hasyim? Jawabannya tetap sama: tidak! Badrie memilih jalan riset, jalan rasional, seperti tokoh yang dilukisnya

“Jadi Mbah Hasyim itu bukan tokoh mitos yang penuh kesakitan. Beliau tokoh historis yang sangat rasional dan penuh perhitungan. Bahkan beliau tidak bertarekat. Bahwa beliau tetap berdoa, itu pasti sebagai seorang kiai,” Badrie menjelaskan kesimpulan risetnya.
Nah, sisi Mbah Hasyim yang sangat manusiawi sebagai tokoh historis, tokoh yang menyejarah, itulah yang oleh Badrie diangkat ke dalam kanvas, ke dalam lukisan-lukisannya. Salah satunya tergambar dengan jelas dalam lukisan “Penangkapan KH Hasyim Asy’ari”. Juga yang sedang dipersiapkan, lukisan peristiwa “Resolusi Jihad”.
Karena itu, dalam semua lukisannya tentang Mbah Hasyim, Badrie menampilkannya sebagai tokoh yang historis. Sosok yang teduh, adem, bijaksana, mengayomi, dan solutif. Dalam lukisan wajah Mbah Hasyim bersurban hijau, misalnya, digambarkan wajah sang tokoh sedang menunduk. “Itu simbol beliau rendah hati,” tandas Badrie.
Karakterisasi sosok Mbah Hasyim dalam lukisan-lukisannya tersebut, menurut Badrie, dimaksudkan agar masyarakat tetap mengingat KH Hasyim Asy’ari adalah tokoh historis, bukan mitos atau legenda. Dari penggambaran sebagai tokoh historis, masyarakat tetap bisa belajar dan meneladan dari sejarah kehidupan Mbah Hasyim sebagai tokoh bangsa, tokoh agama, dan juga pahlawan nasional.
