Perjalanan Sunyi ke Sidratil Muntaha

Peristiwa Isra dan Mikraj menempati posisi istimewa dalam khazanah spiritual Islam. Ia bukan sekadar mukjizat yang melampaui nalar manusia, melainkan sebuah perjalanan batin yang merepresentasikan puncak kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya.

Dalam perspektif tasawuf, Isra Mikraj dapat dipahami sebagai perjalanan suluk Nabi Muhammad SAW, sebuah perjalanan ruhani yang menyingkap hakikat hubungan antara manusia, alam semesta, dan Allah SWT. Puncak perjalanan itu, Sidratil Muntaha, bukan sekadar tempat, melainkan simbol kesadaran tertinggi dalam makrifatullah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tasawuf memandang kehidupan manusia sebagai perjalanan menuju Tuhan. Seorang salik menempuh jalan panjang yang dipenuhi ujian, pengosongan diri, dan penyucian jiwa. Dalam konteks ini, Isra Mikraj bukanlah peristiwa yang terpisah dari realitas kemanusiaan Nabi Muhammad, melainkan klimaks dari kehidupan spiritual beliau yang sarat penderitaan, pengabdian, dan kesetiaan pada risalah. Perjalanan menuju Sidratil Muntaha terjadi setelah Rasulullah melewati fase paling sunyi dalam hidupnya, masa yang dikenal sebagai ‘Amul Huzn. Kesedihan, dalam tasawuf, sering kali menjadi pintu terbukanya cahaya Ilahi.

Isra, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dapat dibaca sebagai tahap penyucian ruang dan sejarah. Dalam pandangan tasawuf, perjalanan spiritual selalu dimulai dari kesadaran akan akar dan tradisi. Masjidil Aqsa menjadi simbol kesinambungan tauhid para nabi. Di sanalah Rasulullah mengimami para nabi terdahulu, menandai bahwa jalan spiritual Islam tidak memutus tradisi kenabian, melainkan menyempurnakannya. Dalam suluk tasawuf, pengakuan terhadap rantai spiritual (silsilah) merupakan syarat penting sebelum seorang salik melangkah lebih jauh.

Mikraj, kenaikan Rasulullah ke langit-langit Ilahi, melambangkan perjalanan batin menuju maqam-maqam spiritual. Setiap lapisan langit yang dilewati Nabi dapat dimaknai sebagai tahapan kesadaran. Dalam tasawuf, seorang salik harus melewati maqam taubat, sabar, zuhud, tawakal, hingga ridha. Perjumpaan Rasulullah dengan para nabi di setiap langit mencerminkan dialog batin antara nilai-nilai spiritual yang diwariskan sepanjang sejarah kenabian.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan