Pesantren: Benteng Islam Moderat

Pesantren, dengan sistem asrama dan sistem pengetahuan Islamnya, juga dikenal di wilayah Muslim lainnya seperti madrasah (Pakistan, India, dan Bangladesh), Hawza (Iran), maktab (Mesir dan negara-negara Arab lainnya), zawiyya (Algeria, Maroko, Libya, dan Tunisia), dan khalwa (Sudan).

Kiai memainkan peran penting dalam sistem pesantren; mereka dihormati oleh santrinya sebagai guru yang asketik dan pemimpin agama. Masjid menjadi kantor kiai, menyediakan kuliah dan bimbingan. Namun, seiring bertambahnya jumlah santri dan masjid tidak lagi dapat menampung mereka, kiai memutuskan untuk membangun asrama. Jadi, ada tiga elemen yang melekat dalam pesantren: pentingnya kiai, masjid sebagai pusat aktivitas, dan ketaatan santri terhadap kiai dan masyarakat di sekitarnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah kemerdekaan Indonesia, pesantren mengambil langkah untuk memasukkan ajaran non-agama ke dalam sistemnya, menyelaraskan diri dengan modernitas. Meskipun demikian, mata pelajaran agama dan moral tetap menjadi komponen utama kurikulum pesantren.

Islam Moderat

Dewasa ini, ada kesalahpahaman yang umum di kalangan masyarakat Indonesia mengenai istilah “moderat”. Banyak yang salah mengartikan “moderat” sebagai sinonim untuk “radikal” atau “ekstrem”. Pandangan ini tentu saja keliru dan salah.

Mengapa ini salah? Berikut penjelasannya. Dalam konteks ini, istilah “radikal” atau “ekstrem” dipandang sebagai antonim dari sekular; cara berpikir yang seringkali mengandaikan perbedaan antara urusan duniawi (dunyawiy) dan urusan akhirat (ukhrowiy). Namun, ajaran Islam menekankan hubungan antara kehidupan dan akhirat, menawarkan jalan tengah antara perspektif rasional-material dan irrasional-immaterial.

Tinggalkan Balasan