Pesantren dan Radikalisme

Salah satu unsur terpenting dalam pendidikan karakter di pesantren adalah menghargai dan menghormati perbedaan. Dan tidak hanya diajarkan melalui kitab-kitab atau buku-buku, tapi juga dipraktikkan langsung dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren. Karena itulah, terbukti kini, orang-orang pesantren tergolong sebagai kelompok masyarakat yang paling siap dan terbuka menerima perbedaan dan keragaman.

Penyusupan Radikalisme

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dengan tradisi keilmuan dan pendidikan karakter seperti itu, maka jaringan radikalisme dan terorisme akan sulit untuk bisa menyusup ke dalam lingkungan pesantren. Memang, belakangan ada satu-dua pesantren yang terembesi paham radikal atau pesantren baru yang memang sengaja didirikan untuk mewadahi jaringan radikalisme dan terorisme. Tapi itu cuma beberapa, sangat kecil dan tidak signifikan jika dibandingkan dengan jumlah pesantren yang mencapai sekitar 30 ribu di seluruh Indonesia. Dan, setiap pesantren juga masih bisa ditelusuri geneologi dan sanad keilmuannya.

Karena sulit menembus benteng pesantren, maka benih-benih radikalisme itu ditabur di “sumur-sumur dangkal”, pada lembaga-lembaga pendidikan umum dan kelompok masyarakat atau orang-orang “yang masih dangkal” pengetahuan agamanya. Sejumlah penelitian membuktikan, jejaring radikalisme dan terorisme banyak menyusup di universitas-universitas ternama, juga SMA-SMA favorit di berbagai kota. Mereka juga menyusup ke berbagai lembaga pemerintahan dan perusahaan-perusahaan swasta.

Target mereka adalah “sumur dangkal” itu, kelompok-kelompok masyarakat atau orang-orang yang masih belum memiliki pemahaman ilmu agama yang dalam, namun memiliki gairah beribadah yang wah. Di sana mereka merekrut dan melakukan kaderisasi, membangun jejaring, dan terus-menerus menyuburkan radikalisme.

Terbukti, dari sanalah kemudian suara-suara atau wacana pendirian Negara Islam atau gerakan menegakkan Khilafah Islamiyah muncul untuk menggantikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pernahkah kita mendengar, misalnya, ada pondok pesantren yang menyerukan atau bahkan memelopori gerakan pembentukan Negara Islam atau Khilafah Islamiyah?

Karena itu, salah kaprah dan salah alamat jika mengkampanyekan gerakan anti-radikalisme dan anti-terorisme di lingkungan pondok pesantren. Yang justru harus dilakukan adalah mengajak orang-orang pesantren untuk mengkampanyekan gerakan anti-radikalisme dan anti-terorisme di luar pesantren.

Misalnya, menghadirkan orang-orang pesantren di perguruan-perguruan tinggi umum baik sebagai dosen agama atau pun sebagai nara sumber untuk kajian-kajian dan kegiatan-kegiatan keagamaan. Model seperti ini juga bisa dilakukan untuk lembaga-lembaga pendidikan lain setingkat SMA, atau kajian-kajian keagamaan di lingkungan kantor-kantor pemerintahan. Yang terjadi selama ini, juga berdasarkan hasil penelitian, yang diberi peran seperti itu justru kebanyakan dari jejaring radikalisme dan terorisme itu.

Tinggalkan Balasan