Pesantren dan Wajah Inklusivitasnya

Kerangka yang diajukan oleh Sayyed Hosen Nasr dan dipinjam oleh beberapa peneliti Islam tentang pesantren adalah Islam tradisional. Di mana kontinuitas gerak tradisional pendidikan dijaga oleh pesantren. Sehingga istilah the great of traditional education religion menjadi satu identitas tentang pesantren. Padahal seiring dengan ragam kemajuan, termasuk kita harus mengakui bahwa Snouck Hongronje memiliki peran dalam pengenalan pendidikan barat yang menjadi tandingan atas pendidikan tradisional, termasuk pesantren.

Hal ini pernah disinggun oleh Nurcholish Madjid dalam salah satu artikelnya, bahwa andai saja Indonesia tidak mengalami penjajahan, mungkin pendidikan mengikuti aur-alur yang dikembangkan oleh pesantren. (Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren:3).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dengan kata lain, pesantren tidak hanya, dan bahkan bukan semata-mata, menjadi penjaga tradisionalisme pendidikan, melainkan juga menjadi ruh atas martabat atau local wisdom sebuah bangsa. Mengapa? Karena pesantren tidak hanya menawarkan penguatan batiniahnya, melainkan sikap sosial dan kedewasaan personal maupun civil society dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita bisa melihat berbagai aset pesantren, tidak hanya yang berupa bangunan tetapi juga peran dari bagian pesantren seperti pemikiran kiai, perjuangan kaum santri, keterbukaan atas keberagaman yang juga dihasilkan dari kesadaran tolensi dalam Islam yang juga dijunjung oleh pesantren sejak dulu. Warisan budaya baik di lingkup sosial kecil, masyarakat, bangsa dengan ragam kerajaan/keraton berideologikan Pancasila, dengan artian bhinneka tunggal ika, adalah satu pola yang dimaksudkan oleh Cak Nur di atas.

Tinggalkan Balasan