Hubungan yang tampak hierarkis dalam pesantren sejatinya bukan sistem kekuasaan, melainkan tatanan nilai. Dalam budaya santri, takzim (pengagungan terhadap guru) bukan berarti meniadakan nalar kritis, tetapi mengajarkan keseimbangan antara logika dan adab. Santri diajarkan untuk berani berpikir, namun tetap sopan; berani bertanya, namun dengan rendah hati. Oleh karena itu, menilai pesantren sebagai lembaga feodal berarti gagal memahami logika spiritual yang mendasari proses pendidikan di dalamnya.
Syekh Burhanuddin Az-Zarnuji menulis Kitab Ta‘lim al-Muta‘allim dengan satu pesan utama: bahwa ilmu tidak akan bermanfaat tanpa adab. Dalam salah satu babnya, beliau menegaskan, “Ilmu tidak akan menetap pada hati yang sombong dan tidak beradab.” Artinya, ilmu bukan sekadar hafalan, tetapi cahaya yang membutuhkan wadah bersih agar bersemayam.

Az-Zarnuji juga menekankan pentingnya niat dan hubungan antara guru dan murid. Guru ibarat pelita, dan murid ibarat sumbu. Bila murid tidak menghormati gurunya, maka pelita itu tidak akan menyala terang. Karena itu, dalam sistem pendidikan Islam, penghormatan terhadap guru bukanlah ekspresi kekuasaan, tetapi bentuk tafa‘ul (interaksi ruhani) yang membawa keberkahan.
Bila dikaitkan dengan tradisi pesantren, nasihat Az-Zarnuji tampak sangat nyata. Santri yang mencium tangan kiai, menunduk saat berjalan di hadapannya, atau menjaga ucapannya bukan sedang tunduk secara sosial, melainkan sedang menata diri agar pantas menerima ilmu. Itulah makna tawadhu yang menjadi inti pendidikan pesantren — kerendahan hati yang membuka jalan bagi kebijaksanaan.
Mengatakan pesantren feodalistik berarti melihat dari kaca mata modern yang menilai hubungan manusia hanya berdasarkan kekuasaan. Padahal, relasi kiai dan santri berakar pada ukhuwah ilmiyyah dan ukhuwah ruhiyyah — persaudaraan ilmu dan ruh. Dalam tradisi ini, kepatuhan santri bukan penyerahan buta, tetapi bentuk latihan spiritual. Ia belajar mengendalikan ego, menundukkan nafsu, dan membangun kesabaran.
Bahkan, jika ditelusuri, banyak kiai besar yang justru hidup sederhana, membuka diri pada kritik, dan menganggap santri sebagai mitra perjuangan. Feodalisme sejati lahir dari kemegahan dan kekuasaan, sedangkan pesantren tumbuh dari kesahajaan dan pelayanan. Maka, tuduhan feodalisme pada pesantren sejatinya tidak menemukan dasar ketika dihadapkan pada realitas nilai yang hidup di lingkungan pesantren.
