Sebaliknya, sistem penghormatan di pesantren menjadi pagar etika yang mencegah munculnya sikap arogan, baik pada guru maupun murid. Kiai yang sejati tidak menuntut ketaatan buta, melainkan membimbing dengan kasih sayang dan keteladanan. Adapun, santri yang beradab tidak akan kehilangan daya kritis, sebab ia belajar berpikir dengan rendah hati.
Di tengah arus globalisasi dan derasnya arus sekularisasi pendidikan, nilai-nilai yang diajarkan dalam Ta‘lim al-Muta‘allim justru semakin relevan. Dunia modern sering kali menekankan kebebasan berpikir tanpa batas, tetapi melupakan pentingnya adab dan tanggung jawab moral. Akibatnya, muncul fenomena “pintar tapi tidak sopan,” “cerdas tapi angkuh,” dan “berilmu tapi tidak berjiwa.”

Pesantren hadir sebagai penyeimbang: mengajarkan bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan kesucian hati. Prinsip ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang menekankan pembentukan karakter. Maka, bukan pesantren yang perlu menyesuaikan diri dengan dunia modern, melainkan dunia pendidikan modernlah yang perlu belajar dari pesantren tentang bagaimana membangun pendidikan yang beradab.
Dengan demikian, Kitab Ta‘lim al-Muta‘allim tidak hanya relevan untuk santri, tetapi juga bagi seluruh pelajar Indonesia. Ia mengajarkan bahwa menghormati guru bukan berarti kehilangan kebebasan, dan bersikap rendah hati bukan tanda kelemahan. Justru dari adab lah lahir ilmu yang bermanfaat, dan dari ilmu yang beradab lahir peradaban yang mulia.
Isu “feodalisme pesantren” pada akhirnya hanyalah refleksi dari perbedaan cara pandang terhadap makna otoritas dan penghormatan. Pesantren tidak membangun kekuasaan, tetapi membangun keteladanan. Kiai tidak berperan sebagai penguasa, melainkan sebagai pelita yang menerangi jalan pencari ilmu. Dan santri, dengan segala kerendahan hatinya, bukan budak, tetapi pejalan spiritual yang menapaki tangga ilmu dengan penuh hormat dan ikhlas.
Kitab Ta‘lim al-Muta‘allim mengingatkan kita semua bahwa pendidikan sejati bukanlah perlombaan kecerdasan, melainkan perjalanan memurnikan hati. Maka, ketika sebagian orang menuduh pesantren feodal, mungkin yang perlu dilakukan bukan membantah dengan marah, tetapi menjawab dengan teladan. Sebab, sebagaimana diajarkan Az-Zarnuji, ilmu itu tidak berteriak—ia bersinar dalam diam, dalam kerendahan hati, dan dalam kesetiaan pada adab.
