Potret Keberagamaan di Indonesia

Islam yang pada dasarnya sebagai ajaran Ilahi, menampung kasih sayang, menekankan pada keramahtamahan pada makhluk yang ada di jagat semesta, sudah beralih fungsi ketika diserap dan berbaur dengan pemahaman (gagasan) manusia. Sehingga, Islam sebagai ajaran akan menjadi ideologi tertutup ketika sudah ada dalam satu lembaga, aliran, atau organisasi tertentu. Islam tidak lagi lentur, apalagi mampu mentransformasi ajaran dalam ranah sosial masyarakat.

Di antara sekian aliran Islam yang mengubah Islam manjadi ideologi adalah Khawarij-Wahabi-Jihadis dan Islamisme Jihadis (hal. 60). Dua kelompok Islam ini menjadikan agama sebagai ladang kekerasan atas nama Islam dan Tuhan. Padahal kita tahu, bahwa Tuhan dan agama tidak butuh pembelaan dengan cara-cara ekstrem.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Untuk memilih dua kutub ideologi kelompok di atas, sudah tidak memungkinkan dalam konsep bernegara di Indonesia. Karena, justifikasi tidak ada pembenaran terhadap metode berpikir dialektika-dikotomis. Yang mana asumsi bahwa argumentasi kelompok saya-lah yang paling benar dan yang lain salah total. Tidak adanya silang pendapat dan komunikasi yang baik antara satu dengan yang lainnya merupakan potret dari usaha mematikan tradisi musyawarah dalam agama dan negara.

Di sini, Aksin mengajak kita untuk menengok kelompok Islam pluralis, yang mana kelompok ini justru berpikir untuk menemukan kebenaran tanpa menjadikan kelompok lain sebagai objek yang disalahkan. Kebenaran atas pemahaman sendiri dan menghargai kebenaran orang lain, menjadi satu pola pikir yang harus dibangun sejak awal, supaya cara menampilkan agama tidak kaku, menolak kekerasan dan lebih dekat pada kedamaian.

Hari ini, kita akan melihat fenomena kemanusiaan dalam masyarakat yang justru dianaktirikan oleh kelompok-kelompok Islam radikal. Tragedi kekerasan atas nama agama, kelompok-kelompok yang mengibarkan bendera agama yang sesuai dengan tafsir mereka dan kadang juga menjadi alat politisasi oleh kekuasaan. Dari sinilah saya kira kemanusiaan sudah tidak menemukan akar pijakan yang kuat.

Tinggalkan Balasan