Dalam sosial kemasyarakatan, perempuan memang selalu mendapat posisi yang kurang menguntungkan. Walaupun, penindasan terhadap perempuan memang sudah terjadi sejak zaman dahulu dan berlangsung hingga hari ini dalam bentuk yang berbeda. Perempuan yang memperjuangkan keseteraannya tentu berbeda-beda dalam gerakannya.
Salah satunya dalam buku novel biografi ini yang menceritakan secara detail kiprah perempuan yang mendirikan madrasah dan menegakkan hak-hak perempuan sejak era kolonial. Perjuangannya untuk memberikan ruang ekspresi pemikiran tentu harus diapresiasi meski harus bertentangan dengan tradisi Minangkabau yang sangat kentara ketika itu. Karenanya, di dalam buku ini kisahnya dipotret dari berbagai sisi perjuangan yang tidak mungkin dilupakan oleh khalayak.

Tokohnya dipanggil dengan Rahmah di dalam buku ini. Ia bernama asli Rangkayo Syekhah Rahmah El-Yunusiyah, seorang tokoh perempuan yang memperjuangkan nilai-nilai feminisme dari Sumatera, membongkar dominasi tradisi Minangkababu yang semena-mena terhadap perempuan.
Sejak masa kecilnya, ia memang sudah berhasil menyemai sikap sebagai seorang perempuan yang mendahului zaman. Ia belajar menjahit, menyulam, memperhatikan kakak dan ibunya berkegiatan di dapur, merengek pada kakaknya untuk diajari tulis baca huruf latin. Sejak pandai mengaji dan tulis baca, Rahmah sudah tenggelam dalam buku-buku. (hal. 15)
