Potret Perempuan yang Mendahului Zaman

Nasibnya naas karena ia sudah dikawinkan sejak kecil oleh orang tuanya. Meski pada akhirnya pernikahannya harus berakhir dengan perceraian. Rahmah yang menikah muda menjadi agak canggung namun ia jalani. Kemudian jalan bersimpang dua, bercerai pada 1992, karena suaminya lebih cenderung kepada pergerakan sedang Rahmah pada pendidikan. Keduanya sepakat menyudahi rumah tangga yang baru itu. Tanpa anak. (hal. 25)

Sejak saat itulah, ia bangkit hingga menjadi seorang perempuan inisiator dalam berbagai ranah. Ia seringkali berdakwah, mengaji, berdiskusi, berdebat, berpidato, membimbing ibu-ibu muda (hal. 84). Ia dikenal sebagai seorang pendidik perempuan dalam memperjuangan hak-haknya di tengah masyarakat meski dalam perjalanannya ia seringkali mendapatkan cobaan yang luar biasa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Gagasan yang disumbangkan kepada masyarakatnya dalam persoalan gender adalah mendirikan sekolah diniyah putri di Minangkabau. Sekolah yang hanya menampung para perempuan untuk dididik ini mengalami beberapa tantangan yang sangat luar biasa dari masyarakatnya. Dengan mendirikan diniyah putri, Rahmah ditantang dengan diam-diam dan dengan frontal. Ia dicibir digunjingkan. Ia digugat kalangan adat, karena sudah lancang membangun sekolah, untuk perempuan pula. (hal. 39)

Kasus adat yang dipotret di dalam buku ini adalah tentang seorang anak perempuan yang harus kawin paksa. Kasus ini terjadi terhadap salah satu murid perempuannya yang dipaksa kawin oleh orang tuanya tanpa mengetahui sama sekali terhadap calon suaminya. Di buku ini, Rahmah sempat berdebat alot dengan orang tua anak yang bersangkutan. Karena baginya, perempuan dididik bukan hanya menjadi pelayan suami belaka, tetapi didekatkan dengan agama Islam agar anak-anaknya kelak jadi orang beriman seperti ibunya (hal. 92). Itulah perkataan Rahmah yang menyadarkan orang tuanya meski pada akhirnya seorang anak perempuan tetap tunduk di bawah kekuasaan orang tuanya.

Tinggalkan Balasan