Sedikit demi sedikit Kiai Humam juga mulai membangun untuk tempat pengajian, termasuk pondok untuk mukim santri yang datang dari jauh. Kemudian pada 1984 didirikan bangunan khusus untuk tempat pengajian para santri sekaligus dengan dana jerih hasil jerih payah sendiri.
Setelah 12 tahun berkembang sebagai pondok pesantren, pada 1996 KH Humam Bajuri wafat. Pengelolaan Pesantren Al-Imdad kemudian diteruskan oleh oleh istrinya, putranya, dan semua saudara-saudaranya yang lain.

Di tangan generasi penerusnya ini, rupanya Pesantren Al-Imdad makin berkembang. Bahlan, lembaga-lembaga pendidika baru terus didirikan. Gedung-gedung baru sebagai sarana pendidikan juga terus dibangun. Kini, Pesantren Al-Imdad memiliki dua asrama untuk santri putra dan putri, musala putra-putri, serta gedung-gedung kelas dan perkantoran serta sama lainnya untuk mencukupi keperluan para santri. Jumlah santrinya pun terus berkembang, dari yang pada awalnya cuma 20 orang, kini sudah lebih dari 800 orang.
Pengembangan pendidikan formal mulai masif pada 1998. Saat itu, pondok pesantren ini mengelola lembaga pendidikan milik LP Ma’arif yang hampir kehabisan murid. Pada yang sama, Al-Imdad juga mengelola Madrasah Tsanawiyah, kemudian mendirikan Madrasah Aliyah pada 2012. Dengan adanya MTs-MA di pesantren ini, jumlah santri mengalami lonjakan setiap tahunnya.

Mantab, Ustaz. Selamat,,,
Terima kasih gus
pesantren percontohan
ajip tenan nih dijadikan referensi “aku dan pesantrenku”
Ya gak apa apa ustadz…