Potret Pesantren Mandiri (5): Nahdlatul Ulum Maros

Ramah anak berarti memberikan pelayanan yang baik terhadap kebutuhan anak. Santri yang sedang belajar di pesantren ini diberikan waktu untuk “bermain” di sela kegiatan pesantren yang sangat padat. Karena karakter seorang anak adalah bermain dan bersenang-senang dalam menjalani kehidupan. Maka seorang guru (ustaz di pesantren) harus dapat memberikan edukasi yang membuat para santri menjadi senang, bahagia, dan bersemangat, senyampang belajar untuk menjadi insan yang siap bersaing dalam kehidupan.

Diniyah Formal

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Salah satu nilai lebih yang ada di Pesantren Nahdatul Ulum Sulawesi Selatan ini adalah adanya Pendidikan Diniyah Formal (PDF). PDF merupakan sekolah agama formal untuk mencetak santri yang mendalami ilmu agama atau tafaqquh fiddin. Hal ini terlihat dari segi mata pelajaran yang diajarkan seperti ilmu falaq, ilmu arubi, ilmu mantiq dan ilmu balaghah yang sudah sangat jarang ditemukan di madrasah atau pesantren pada umumnya. Tentu tidak ketinggalan pula materi seperti tafsir, hadis, fikih dan usul fikih, nahu-saraf, ilmu tauhid, dan ilmu kalam.

Pendidikan Diniyah Formal merupakan salah satu usaha untuk memberikan pelayanan yang lebih mendalam terkait dengan keislaman. Jika di madrasah-madrasah juga dipelajari materi keagamaan (Islam), di PDF lebih menjangkau kepada mata pelajaran yang tidak diajarkan di madrasah. Seperti ilmu falaq yang akhir-akhir ini sudah jarang diajarkan di lembaga pendidikan, termasuk di lembaga-lembaga pesantren. Maka Pendidikan Diniyah Formal memberikan jalan keluar untuk lebih memahami dan memantapkan pengetahuan dengan jangkauan yang lebih luas.

Itulah sekilas profil dari Pesantren Nahdlatul Ulum di Maros, Sulawesi Selatan. Pesantren yang baru berusia 20 tahun ini telah membuktikan diri sebagai pesantren yang dapat bersaing di tingkat nasional dan internasional. Terbukti dengan dijadikannya sebagai percontohan pesantren mandiri oleh Kemenag serta beberapa santrinya yang telah lulus mampu bersaing di tengah kehidupan masyarakat yang beragam. Wallahu A’lam!

4 Replies to “Potret Pesantren Mandiri (5): Nahdlatul Ulum Maros”

Tinggalkan Balasan