Puasa dan Sigmund Freud

Puasa di Bulan Ramadan yang secara mendasar mewajibkan untuk menahan makan minum, bicara kotor, dan juga hubungan badan merupakan media mendewasakan jiwa kita. Dengan tidak makan seharian, kita dilatih untuk tidak meraup kesenangan dengan apa yang kita telan. Karakter anal yang berdimensi kotoran bisa dihindari dengan tidak berbicara kotor atau lewat mengeluarkan zakat atau sedekah dari ”kotoran” harta kita. Sementara kekangan untuk tidak berhubungan seks sejatinya adalah latihan agar kesenangan kita terhadap seks atau genital yang secara mendasar menguasai pikiran kekanak kanakan kita, bisa dinetralisir.

Sebulan penuh kita didorong untuk tidak melakukan hal yang biasa kita lakukan pada sebelas bulan lainnya. Jika kita berhasil, akan ada efek yang bisa dirasakan pada bulan-bulan lainnya. Bagi jiwa yang belum dewasa karena mengalami fiksasi, latihan sebulan ini tentu sangat berat sekali. Melakukan tindakan yang tidak biasa memang meletihkan. Terlebih menghindari sumber kesenangan yang sebelumnya dijadikan pijakan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Oleh karena itu, menghadapi Ramadan ini, kita harus siap sedia melatih karakter kekanak-kanakan kita yang masih suka mementingkan mulut dan perut. Baik dalam arti memasukkan barang konkret ke dalam tubuh sehingga tambun. Atau juga secara alegoris berupa menimbun materi duniawiyah sehingga berjibun. Di bulan Ramadan ini, hal kotor, jorok atau mesum yang biasa kita jadikan sajian harian juga dilatih untuk dihindari. Permainan kotor dan mesum demikian, betapapun kecil, sungguh sangat memengaruhi puasa Ramadan kita. Persoalan seks juga sejauh mungkin dihindari. Tidak hanya berhubungan badan, namun juga pergumulan dalam khayal, wajib dihindari sejak dini dan sejak dari hati.

Tinggalkan Balasan