Kanaya terkesiap oleh suara sopir mobil pesanannya tadi. Dia mengerjapkan mata, lalu bernapas panjang.
“Iya, Pak.” Kanaya masih tampak bingung.

“Kita ini mau ke mana?” tanyanya lagi.
“Emm, kita ke tempat Pak Kiai Majid saja, Pak,” balasnya, tenang.
“Baik, Mbak.” Sopir pun kembali melajukan dengan kecepatan sedang setelah mengetahui tujuan penumpangnya.
Sepanjang jalan, Kanaya hanya melamun. Pandangannya kosong mengarah keluar mobil. Akan tetapi, dalam benaknya berjejal-jejal mengenai ayahnya. Kasih sayang ayahnya masih melekat di hati gadis itu. Bagaimana mungkin pria yang menjadi ayah sekaligus ibu itu kini ditinggalkannya? Doa demi doa dia rapal setiap detik supaya ayahnya tercinta dibukakan hatinya untuk mengakui Islam dan masuk Islam seperti dirinya.
Tak sadar sopir pun memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang kediaman Kiai Majid. Di sana sudah ada Sofia menyambutnya dengan senyum mengembang.
“Mbak kita sudah sampai tujuan,” kata sopir itu mengagetkan Kanaya.
“Oh, iya. Terima kasih banyak, ya, Pak. Ini ongkosnya. Kembaliannya bawa saja.” Gadis itu memberikan dua lembaran uang berwarna merah.
“Terima kasih, Mbak.” Pak sopir itu menerima dengan semringah.
Kanaya keluar dari mobil hitam itu. Selepas mobil itu berlalu, Kanaya langsung dipeluk oleh sahabatnya yang sejak tadi sudah menunggu di depan gerbang rumahnya.
“Kamu yang sabar dan tabah, ya.” Sofia mengusap pelan punggung Kanaya yang masih dipeluknya.
Tangis Kanaya pun pecah kembali di dekapan sahabatnya sejak kecil itu. Sempat beberapa kali renggang karena beda agama. Akan tetapi, kini Kanaya hendak memeluk Islam persahabatan itu makin erat bahkan Kanaya sudah dianggap sebagai saudara sendiri di keluarga Kiai Majid alias ayah Sofia.
Setelah mengurai pelukan mereka, Sofia mengajak Kanaya masuk ke rumahnya. Dia membantu Kanaya untuk membawakan koper yang Kanaya bawa. Hatinya sangat senang sekali sahabatnya akan menjadi saudara seiman.
