Rahasia Kopiah Lusuh

“Ini hari bahagiamu, istirahatlah. Bapak yang akan cari pakan.”

“Karena ini hari bahagia saya, saya mau orang yang saya cintai merasa sedikit lega. Lagi pula, ini kewajiban, dan bapak yang mengajarkannya. Mana mungkin saya lupakan,” ujarnya sambil melempar senyum sebelum menunaikan kewajibannya dan tak lupa memakai kopiahnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sekarung penuh rumput segar diangkut Dzul ke kandang. Peluh yang keluar dari sekujur badan dia keringkan dengan kopiahnya yang dikipas-kipaskan. Dari balik rumah Zainuddin datang, untuk sekadar menyapa teman akrabnya.

“Habis ini kamu ke mana Din?

“Mungkin ke Yogja, kuliah. Abah maunya begitu.”

“Sama kayak ning, bagaimana kabarnya?”

“Baik, kemarin kami teleponan.”

“Abah masih saja penasaran dengan kopiahmu,” ucap Zainuddin dengan sedikit kelakar.

“Biarlah, ini akan menjadi rahasia kita. Dan aku harap untuk selamanya.”

Tak lama ada suara panggilan yang mereka dengar dari rumah. Dzul melenggang ke kamar mandi dekat kandang terlebih dulu, membersihkan badan. Setelah selesai, dia menghadap Pakde Pandu. Ada sebuah hadiah yang disiapkan Pakde atas kelulusannya. Terlebih lagi dia berada di urutan yang memuaskan.

Tinggalkan Balasan