Rahasia Kopiah Lusuh

Namun, dengan satu syarat, dan Dzul sudah menebaknya. Beliau ingin tahu apa istimewanya kopiah yang dipertahankan Dzul sekian lama itu. Namun, anak muda itu masih tetap pada pendiriannya. Dan juga pada penolakan halusnya. Dia berniat undur diri karena belum salat ashar, sedang mentari sudah memancarkan mega.

Dalam perjalanan dia tak sengaja bertemu dengan para berandal. Namun, Dzul hanya ingin lewat tanpa peduli. Salah satu dari mereka mencoba menghalangi langkahnya dengan menyahut kopiahnya. Mata pemuda itu gelap seketika. Badannya yang telah biasa bekerja keras menyembulkan urat-urat amarah. Dihantamkan sebuah pukulan tepat ke arah salah satu dari mereka. Dalam sekejap berandal itu pingsan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Teman-temannya yang tak terima dengan Dzul ikut bergabung. Tapi tetap saja tak ada yang bisa membendung kemarahan sang singa. Atas alasan kopiah tersayangnya dan waktu asharnya yang hilang. Dari belakang salah satu berandal itu menyelinap. Memukul tengkuknya hingga pandangannya benar-benar kabur, lalu tubuhnya tersungkur.

Selang beberapa lama pemuda itu sadar. Badannya terasa berat dan dia tak tahu sedang di mana. Banyak luka lebam di sekujur tubuhnya. Beberapa ada yang sampai membiru dan membuatnya susah bergerak. Di sampingnya sang bapak tertidur dalam duduknya. Dan ternyata tak sendiri, Zainuddin juga di sana. Dia tahu bahwa pasti juga ada Pakde dan Bude. Saat mencoba menegakkan diri dengan susah payah, ternyata mereka membuka pintu.

“Eh, jangan gerak dulu,  masih belum sembuh,” Bude Syikha mencoba membenarkan bantal yang ada di punggung Dzul.

“Pakde, bisa tolong ambilkan kopiah saya?”dengan sedikit keheranan dia menuruti ucapan Dzul.

Bapak dan Zainuddin lekas bangun mendengar ada sebuah percakapan. Bapaknya tak kuasa membendung tangis. Dan Dzul segera meminta maaf padanya. Baginya kopiah itu sangat berharga, dan bapaknya juga tahu alasannya. Sedangkan,  Zainuddin yang juga tahu sedikit geram. Dia bisa saja mati saat berhadapan dengan para berandalan itu. Hanya untuk alasan itu,  Pakde Pandu yang mulai gemas, segera ingin mengetahui apa yang mereka sembunyikan.

“Maaf, ini sudah membuat Pakde gelisah. Maafkan saya.”

Dzul akhirnya menceritakan bahwa koiyah itu adalah hadiah terakhir mendiang ibunya. Namun ada satu alasan lagi yang ia sembunyikan dari Pakdenya. Akhirnya Dzul meminta Pakde untuk membuka salah satu selipan yang ada di samping kopiah.

“Maaf, saya sudah merahasiakannya selama bertahun-tahun.”

Tinggalkan Balasan