Tidak sepenuhnya salah, namun Islam tidak mengajarkan kepada umatnya untuk bermalas-malasan. Berpuasa Ramadan diapresiasi Allah sebagai ibadah, dengan kemurahanNya tidurnya orang puasa dinilai sebagai ibadah.
Puasa Ramadan seharusnya bisa dimaknai sebagai ‘peperangan’ untuk mengalahkan hawa nafsu. Tentu saja sebuah ‘peperangan’ harus diwarnai dengan rasa semangat, bukan bermalas-malasan. Terlebih lagi, ketika rebahannya yang kelewat batas, bukan saja untuk menghindari nafsu saja, tetapi juga melewatkan dzikir, tadarus, mengikuti kajian keislaman, tetap produktif, demi mengejar nilai ibadah yang dilipatgandakan ketika Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan lain.

‘Tidak ada kepuasan tanpa pengorbanan dan kerja keras’ sebuah ungkapan tepat bagi kaum rebahan di bulan Ramadan. Memang, sungguh nikmat, ketika rebahan sambil mendengarkan musik kesayangan, menikmati film di Netflix, menonton video-video di youtube, ngr-game, asik berkomunikasi dengan grup dalam komunitas di medsos, melihat tayangan yang berbau kuliner, menikmati tontonan iklan sirup, dan lain sebagainya.
Tetapi, perlu direnungkan bahwa banyak umat muslim yang masih bisa bekerja di luar namun tetap berpuasa. Petani di kampung di bawah terik dan kehausan, tetap mengolah lahan dan tanamannya. Driver ojol, petugas medis, aparat keamanan, satpam, pekerja pabrik, pasukan kebersihan, dan pekerja-pekerja lain yang tetap berpuasa meski bekerja. Mereka berlelah-lelah berkeringat, ‘benar-benar’ menahan makan dan minum melawan lapar dahaga, demi mempertahankan puasa. Bekerja adalah amanah, jalan untuk mencari rezeki. Sedangkan, puasa Ramadan adalah ibadah untuk mencapai gelar la’allakum tattaquun. Mereka yang demikian tersebut, tentu akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT, daripada kaum rebahan yang terlena kebablasan berdalih menghindari kemaksiatan.
