Ramadan dan “Kaum Rebahan”

Rebahan atau tidur seharian memang tidak membatalkan puasa, dan tetap sah. Namun, kadar nilai pahalanya tentu akan berbeda dengan seseorang yang berpuasa dengan tetap produktif, baik dari segi pekerjaan ataupun ibadahnya. Pada malam hari disengaja begadang, ketika mendekati fajar mereka sahur kemudian tidur sepanjang hari. Tidak sedikit orang berpuasa melakukannya untuk menghindari rasa lapar dan haus ketika siang hari. Atau, ketika selesai berbuka menyantap demi memuaskan nafsu untuk makan-minum yang telah ditahan seharian, kemudian rebahan setelahnya, tidak tarawih atau tadarus, hal ini tentu tidak disukai Allah SWT.

Rasulullah SAW ketika bulan Ramadan aktivitasnya meningkat hingga berlipat-lipat. Beliau tidak bermalas-malasan. Rasul juga pernah berucap bahwa orang yang mendapati bulan Ramadan namun tidak memanfaatkannya untuk memperbanyak kebaikan dan meminimalkan keburukan, maka orang itu adalah orang yang merugi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Penulis bukan ingin menghakimi kaum rebahan atau memandang bahwa tidur ketika puasa Ramadan adalah hal buruk. Tidur atau rebahan memang masih lebih baik daripada terjaga lalu melakukan aktivitas yang benar-benar dapat membatalkan pahala puasa. Mengisi puasa dengan berdusta, menghasut, menggunjing, menjelek-jelekkan pihak lain, dan perbuatan negatif lainnya. Namun, jika tidur untuk istirahat, secukupnya dan tidak berlebihan saat menjalani puasa tentu hal tersebut lebih afdhal. Tidur cukup dan ‘berkualitas’ menurut kesehatan mempunya faedah. Menjaga untuk tetap fokus, mengontrol rasa lapar, mengurangi stres, meningkatkan mood, dan bisa menambah energi atau me-recharge kembali tenaga yang sebelumnya telah digunakan. Tapi, ini untuk tidur siang yang berkualitas selama sekitar 30 menitan, bukan seharian atau hanya sekadar rebahan yang unfaedah.

Ibadah Ramadan hanya bisa ditemui setahun sekali. Kemungkinan akan menemui di tahun berikutnya masih menjadi misteri umur yang hanya Allah SWT yang mengetahui. Dengan begitu, memanfaatkan momentum Ramadan dengan sebaik-baiknya, mengisi dengan berbagai hal atau aktivitas yang bernilai pahala, tentu akan lebih bermakna. Tetap mengikuti tarawih bagi daerah zona hijau dengan ketentuan atau protap dari pemerintah, bagi yang tidak diperbolehkan bisa melakukan tarawih di rumah, tadarus, salat malam, salat Dhuha, bersedekah kepada tetangga sekitar, mengikuti kajian keislaman secara online ataupun bertatap muka langsung dengan tetap phisycal distancing, akan menjadi semaian umat muslim yang kelak akan dipanen di akhirat. Amin. Mari segera bangkit kaum rebahan, manfaatkan separo lebih Ramadan tersisa dengan menyemai benih-benih amal yang dilipatgandakan sesuai janji Allah.Wallahua’lambisshawab.

Tinggalkan Balasan