“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-Hujurat ayat 10).
Dalam Al-Qur’an, Al-Hujurat ayat: 13, Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al Hujurat ayat 13).
Karena itu, bulan puasa ini adalah sarana dan momentum tepat untuk mengarahkan (tahzib), membentuk karakteristik jiwa (ta’dib), serta medium latihan untuk berupaya menjadi manusia “insan kamil” dan paripurna (tadrib), yang pada esensinya bermuara pada tujuan akhir puasa yakni takwa.
Membangun Kesalehan Sosial
Syahdan, kesalehan sosial dalam Al-Qur’an disebut dengan istilah “itsar” (mendahulukan orang lain). Itsar adalah kemuliaan bagi jiwa yang membuat seseorang menahan dirinya dari keperluan yang dibutuhkan olehnya, untuk diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan.
