Terbawa lagi langkahku kesana
Mantra apa entah yang istimewa
Kupercaya selalu ada sesuatu di Jogja.
So, Jogja benar-benar punya daya magis tersendiri. Jogja punya mantra tersendiri.

Ramadan dan Angkringan
Di Jogja, aku mulai memahami, jika sepanjang perjalanan (yang) hampir dua pekan ini, tak kudengar bunyi klakson dari para pengendara motor dan mobil; meski macet panjang, namun begitu teratur.
Oh, beginikah keteraturan dan keseimbangan itu? Orang Jogja setulus dan secantik itu untuk menunjukkan ke orang-orang luar jika Jogja benar-benar istimewa. Bahkan urusan kecil soal tidak membunyikan lakson meski macet panjang, mereka perhatikan, berbeda sekali dengan kota-kota metropolitan di kota-kota besar lainnya (sebut saja Jakarta, Surabaya, dan lainnya), yang macet sedikit langsung tuuuutt, tuuuuut… bunyi klaksonnya.
Ah iya, Angkringan.
Pernah sekali, dalan perjalanan pulang ke kos teman, kubertanya kepada seorang teman. Kenapa Jogja banyak sekali angkringannya? Jawabnya, sederhana. “Sebab, salah satu pemikat Jogja, ya itu, angkringannya. Angkringan itulah yang membuat Jogja tetap hidup.”
Mendengar jawabannya, aku hanya menganggukkan kepala, tanda paham dengan jawabannya.
