Sudah satu minggu lebih badan gemuk ini menghirup udara Jogja (baca: Yogyakarta). Sudah beberapa kali pelesir ke berbagai tempat wisata. Ada wisata untuk menenangkan kepala dan pikiran. Atau, jauh lebih dalam lagi, nyabis ke tempat-tempat keramat, seperti maqbarah, asta, dan tempat-tempat wisata religi lainnya.
Benar sekali kata Joko Pinurbo (penyair sekaligus murid dari Sastrawan favoritku: Eyang SDD), “Jogja terbuat dari Rindu, Pulang, dan Angkringan.”

Dari sepanjang perjalananku di Jogja, rasa-rasanya munafik sekali bila tidak melabelkan kota ini sebagai kota istimewa. Sebab, benar-benar seistimewa itu. Mulai dari tempat-tempatnya, orang-orang di dalamnya, toko-toko buku bacaan, segala angkringan di pinggir jalan, dan tak kalah lengkap juga varian kafe-kafenya.
Orang-orang Istimewa
Di kampungku (baca: tempat tinggalku), jarang sekali kutemukan perbincangan intim yang menyeruak dari altar angkringan dan kafe-kafe. Sulit sekali kutemukan halaqah-halaqah, lingkaran kajian, dan diskusi di halaman kampus dan masjid-masjid. Semua itu baru kutemukan di Jogja ini.
Setiap kali masuk ke kafe, memesan gorengan pisang dan kopi, lantas duduk random di tempat yang belum terisi, tanganku mulai meraih buku dari tas yang biasa kubawa ke mana-mana. Entah seperti ada daya magis tersendiri, mata-mata di sekitar bergantian melihatku, hingga akhirnya beberapa orang berani mendekatiku dan bertanya-tanya soal buku apa yang dibaca.
Akhirnya, dari kerandoman itu, hampir di semua kafe yang kutemui, baik di kafe Basabasi, Bento, Leha-Leha, Secangkir Jawa, aku berkenalan dengan orang-orang baru (yang akhirnya aku tahu, jika satu dua dari mereka adalah pembaca sekaligus penulis aktif, bahkan buku-bukunya terpampang rapi di Gramedia)
Lagi-lagi, benar sekali hadis yang pernah kubaca waktu lampau:
الأرواح جنود مجندة، فما تعارف منها ائتلف، وما تناكر منها اختلف
“Ruh-ruh itu adalah tentara yang berbaris. Yang saling kenal (cocok/sesuai), mereka akan saling bersatu; adapun yang tidak saling kenal (tidak cocok/tidak sesuai) akan berselisih (berpisah).”
