Rasisme dan Tuhan pun Mahabijak

Umumnya, rasisme disanding-hubungkan dengan vandalisme. Meskipun secara umum vandalisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya)” atau “perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas”. Bentuk kekerasan yang ditujukan pada ras tertentu, golongan tertentu, dan kepercayaan tertentu. Maka rasisme seringkali melahirkan tindakan brutal (radikal, kekerasan) terhadap golongan tertentu sehingga menjadi problematika sosial.

Kekerasan yang disebabkan karena rasis seharusnya tidak boleh terjadi. Namun dalam realitasnya, disengaja atau tidak, tindakan sparatis ini menjadi masalah sosial. Dari sejak zaman awal hingga saat ini kekerasan berdasar rasis selalu terjadi dan terus terulang. Tentu diperlukan kesadaran individu (personal) bahwa tindakan rasis menjadi bentuk penindasan yang harus disingkirkan dari egoisme diri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ego adalah karakter keakuan hingga meniadakan eksistensi orang lain. Egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri. “Egoisme berarti menempatkan diri di tengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain, termasuk yang dicintainya atau yang dianggap sebagai teman dekat.” Istilah lainnya adalah “egois” (wikipedia). Secara kasat mata dapat kita pahami bahwa egoisme merupakan sifat dan sikap yang berkonotasi negatif. Bagaimana pun, seorang manusia memerlukan (bantuan) manusia lainnya.

“Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Abu Dawud telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik dari Usaid bin Hudlair, seorang Anshar berkata: Wahai Rasulullah, anda menugaskan fi fulan tapi anda tidak menugaskanku. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: ” kalian akan melihat sifat mementingkan diri (egoism), bersabarlah kalian hingga kalian menemuiku di telaga. (Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih.”)

Tuhan Maha Rasis? adalah kumpulan berbagai artikel yang ditulis oleh para santri (atau pemerhati kepesantrenan). Pun demikian, topik yang diangkat juga beragam dari dunia kesantrian, sosok kiai (pengasuh lembaga pesantren), kepesantrenan, hingga berbagai opini yang tidak jauh dari dunia kesantrian. Ternyata, dari bilik pesantren yang sederhana, bersahaja, dengan fasilitas yang terbatas, percikan pikiran-pikiran itu melangit sekaligus membumi. Menjadi referensi beragam dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan tata kaidah pustaka yang baku dan legal.

Buku Tuhan Maha Rasis? yang diterbitkan oleh Yayasan Jejaring Duniasantri memiliki jumlah halaman xvi + 351, dengan ukuran 13 cm x 20,5 cm. Buku dengan bentuk proporsional ini sangat direkomendasikan untuk dibaca dan ditelaah. Mengasah kemampuan berpikir, sekaligus kritis terhadap banyak persoalan dan tetap menanamkan etika dan sikap humble sebagai seorang santri.

Membaca buku ini seakan dibawa pada dunia pesantren. Membincang tentang kurikulum pesantren, akrivitas keseharian santri, dan berbagai sosok pengasuh yang pantas untuk diteladani. Banyak sekali serpihan pemikiran yang menjadi diskusi agar kebenaran menjadi semakin jelas. Menulis suatu topik dalam khazanah keilmuan akan menjadi prasasti dalam sejarah kehidupan. Sehingga, puncaknya kita akan mengayuh peradaban ke jalan yang semakin bersinar.

Seperti yang ditulis oleh Mukhlisin —penulis paling produktif di buku ini— tentang barokah (dalam KBBI: berkah) Pak Kiai di sebuah pesantren. Barokah, yang dalam bahasa agama dikatakan “ziyadatul khoir minallah (bertambahnya kebaikan dari Allah swt) adalah simbol keyakinan terhadap suatu kebaikan yang bisa datang dari siapa saja dan dari mana saja. Sedangkan ikhtiar merupakan washilah (perantara) yang wajib diupayakan oleh setiap pencari barokah. Kalau dalam bahasa Pak Kiai, dalam tulisan Mukhlisin ini, adanya mujahadhah, riyadhah, dan istiqamah; rajin, disiplin, dan konsisten.

Tinggalkan Balasan