Rasisme dan Tuhan pun Mahabijak

Bisri Mustafa dalam tulisannya menjelaskan tentang hikmah sebuah pengabdian. Karena ikhlas dalam melakukan perintah seorang kiai, akhirnya ia diberi kemampuan lebih oleh Allah. Semula sebagai santri yang bebal, tidak cepat dalam menerima pelajaran, dengan patuh dan ikhlas selalu setia dan sedia mengantar kiai berdakwah, akhirnya ia mendapat makrifat. Yaitu pemahaman dan pengetahuan yang sebelumnya belum pernah terpikirkan. Hingga pada puncaknya ia dapat menganti posisi kiai meski tetap dalam pantauan dan arahan sang kiai tersebut.

Dalam tulisan yang cukup panjang, bahkan dalam catatan artikel ini dijelaskan sebagai pemenang dalam ajang lomba kepenulisan, Khanifah mengangkat ulama perempuan dari Sumenep Madura. Nyai Siti Maryam, atau yang biasa dipanggil dengan Nyi Seppo adalah ulama perempuan Madura yang berjuang dalam menegakkan pengajaran di pesantren. Beliau (Nyai Siti Maryam) juga sebagai pejuang membela hak-hak perempuan. Nyi Seppo paling tidak suka dengan pernikahan dini. Maka sebisa mungkin Beliau berusaha menghindarkan santri-santrinya untuk menikah di usia belia. Nyai Siti juga pejuang kesetaraan gender. Hingga dengan usaha dan ikhtiar Beliau, di Desa Bilapora pernah terjadi sorang Kepala Desa dipegang oleh perempuan. Kenyataan ini sebagai bukti bahwa Nyi Seppo benar-benar berjuang untuk kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

El Azmil As Sasaky dengan judul artikelnya “Almanshuriyah, Pilar Islam di Pulau Seribu Masjid” mengangkat Pulau Lombok sebagai pusat pengembangan Islam yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Pulau Lombok, yang terkenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid, menurut El Azmil sebagai ungkapan hiperbolis sekaligus nilai kebanggaan bagi masyarakat setempat bahwa di pulau ini perkembangan Islam begitu pesat. Seribu masjid sebagai ungkapan metafor-hiperbol karena di pulau tersebut masjid sebagai pusat pengembangan Islam.

Syeh Siti Jenar dengan ajarannya (?) Manunggaling kawulo-Gusti dijelas-jabarkan oleh Debbi Candra Dianto. Bahwa ajaran ini bukan sebuah “kekacauan” tauhid, akan tetapi untuk menyelami ke tingkatan makrifat diperlukan proses dan pemahaman yang lebih mendalam. Tersebab oleh hal demikian, maka kemudian Syeh Siti Jenar dianggap melanggar syariat dan dihukum mari (atau kalau dalam penjelasan Debbi, yang dibunuh adalah ajarannya, sedangkan Siti Jenar menghilang, hilang, atau dihilangkan). Akhirnya, kita harus sadar dan menyadari bahwa hakikat kebenaran itu hanya Allah yang Mahatahu. Termasuk, kebenaran ajaran Syeh Siti Jenar; kita harus waspada dan hati-hati dalam menerima dan menyampaikan ajaran yang sudah dianggap menyimpang oleh para ulama pada zamannya.

Dan masih banyak lagi artikel-artikel dalam buku yang cukup tebal ini. Tidak mungkin saya bahas satu per satu mengingat banyaknya artikel yang ada. Maka, langkah yang paling bijak dan sangat arif adalah memiliki buku ini kemudian dijadikan sebagai penambah wawasan dan khazanah keilmuan dalam kehidupan bermasyarakat. Dikaji, ditelaah, dan dijadikan bahan diskusi (wajaadilhum billati hiya ahsan).

Membincang tentang kepesantrenan dan kesantrian tidak akan pernah selesai. Akan selalu muncul inovasi kebaruan dari sekat-sekat pondok yang sederhana. Namun, kesederhanaan tidak menghilangkan kemampuan pola pikir yang dinamis. Berpikir jauh ke depan demi menyongsong era industri 4.0 yang telah hadir dengan segala kemegahan teknologi. Pesantren mampu bersaing dalam khazanah keilmuan dengan segala mujahadah yang menjadi karakter di jiwa para santri.

Tinggalkan Balasan