Hal yang sering ditawarkan pengusung khilafah untuk mengganti Pancasila adalah iming-iming kemudahan mengelola negara, kemudahan untuk mempersatukan belahan sosial yang berbeda, dan kuatnya ikatan yang dibentuk dalam religiusitas. Semua hal tersebut jika ditelisik lebih dalam, hanyalah hal semu yang tidak mungkin terjadi dalam konsensus membangun negara. Faktor paling besar yang mempengaruhi kegagalan ideologi khilafah untuk menyusun kedaulatan negara adalah keegoisan mereka dalam mengutamakan pendapat mayoritas dibandingkan minoritas.
Dalam kurun waktu satu tahun, tercatat ada beberapa gerakan yang ingin mengubah ideologi Pancasila dengan ideologi khilafah. Kasus terbaru adalah ajakan Khilafatul Muslimin untuk kembali kepada ideologi khilafah melalui konvoi dengan rentetan spanduk bertuliskan kembali pada khilafah. Kasus seperti ini dapat dipahami sebagai pucuk gunung es. Di mana, sebenarnya ada ribuan ormas serupa yang masih belum menunjukkan eksistensinya dalam merongrong ideologi khilafah. Sedangkan, yang kelihatan hanya beberapa saja. Pun, aksi semacam ini juga menjadi bukti gerakan-gerakan bawah yang mulai membesar dengan dogma ketidakpercayaan pada Pancasila.

Membangkitkan Ideologi Negara
Mustofa Rejai (1994) selain memaparkan alarm bahaya, juga mengungkapkan semangat optimistis akan kebangkitan Pancasila sebagai ideologi dasar negara. Dalam bukunya, dia mengungkapkan jika suatu ideologi politik pada dasarnya tidak bisa dihapuskan. Dirinya hanya mati suri, dan dapat dibangkitkan kembali melalui serangkaian gerakan secara bersamaan.
Mustofa Rejai menggambarkan dua fase yang berbeda, antara decline dengan resurgence. Fase decline dapat muncul jika ideologi yang dianut mulai diremehkan dan hanya dijadikan formalitas, tanpa adanya pengamalan. Sebaliknya fase resurgence akan terjadi jika suatu ideologi kembali ditelaah dan diamalkan dalam setiap lini kehidupan. Keduanya saling bergantian satu sama lain, dan lama ideologi berada di fase tersebut digantungkan pada subjek yang melakukan ideologinya.
