Sementara itu, santri dikenal sebagai murid dalam sistem pendidikan pesantren. Ada hal yang tertanam lekat dalam hati sanubari santri terkait kebudayaan dan keislaman. Santri dipahami sebagai sashtri, atau cantrik, jika diarahkan ke dalam kesejarahan lama di mana tentu memiliki visi peradaban dalam pendekatan pendidikan dan kebudayaan Islam.
Al-muhafadlah ‘ala al-qadimissalih, wa al-akhdu bi al-jadidi al-ashlah. Mempertahankan budaya lama dan mengambil nilai kebaikan dari yang baru, adalah prosedur komunikasi kebudayaan yang sampai saat ini masih dipegang erat dalam dunia pesantren, khususnya dunia santri.

Oleh karena itu, dapat kita lihat saat ini bahwa santri turut serta dalam rangkaian perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Santri yang menjadi bagian dari pesantren, di mana menurut Karel A. Steenbrink disebut sebagai implikasi sistem pendidikan tradisional Hindu Jawa, kemudian diaplikasikan dalam bentuk Islam, tentu memiliki orientasi pembentukan manusia agar selalu berkembang sesuai dengan pola dan konstruksi sosialnya.
Namun, santri juga menjadi ruang tak terbatas ketika dipandang sebagai subyek dalam menyambut kemajuan zaman. Santri sebagai manusia tentu dapat menjadi ruang yang sangat luas dalam menerima kemajuan teknologi dan informasi. Santri sebagai murid, tentu tidak akan keluar dari jalan yang sudah ditata rapi oleh kiai dan terlebih pengetahuan sejak lahir yang diwariskan oleh orang tua.
