Revitalisasi Bahasa Daerah dengan Karya

Tak jauh berbeda dengan film. Ia punya potensi besar dalam revitalisasi bahasa daerah. Misalnya film pendek Tilik. Film ini sukses menyedot perhatian publik, sempat trending di media sosial Twitter. Obrolan ibu-ibu dalam film tersebut tanpa sadar diikuti dan dibuat lelucon. Betapa bahasa daerah yang diaplikasikan lewat karya lebih menarik ketimbang sekadar dituturkan langsung. Semakin banyak karya berbahasa daerah yang berkualitas akan melejitkan lagi minat kawula muda untuk melestarikan budaya Nusantara.

Tak hanya berkarya lewat film atau musik. Beberapa aplikasi seperti Tik-tok, instagram, atau Twitter jadi ladang basah untuk berkarya. Seperti Jawacana (media berbahasa daerah), selain menyebarkan majalah gratis mereka juga merilis akun Tik-tok berisi kisah-kisah pewayangan berbahasa ngoko gaul.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di samping itu program-program penting perlu diluncurkan oleh Badan Bahasa. Seperti memberikan apresiasi atau penghargaan pada komunitas atau individu yang hingga kini tak henti merawat bahasa daerah melalui karya. Lalu, dukungan tersebut meluas dengan pembentukan komunitas bahasa daerah di tingkat RT atau RW.

Merawat bahasa daerah memang bukan perkara mudah. Tak harus menunggu jadi seniman untuk menghidupkan kembali budaya Nusantara. Mari, memulainya dengan menggunakan bahasa daerah dalam obrolan sehari-hari. Kita bisa membuat caption di status Whatsapp atau Instagram atau bagi-bagi kosakata gratis di media sosial. Tak masalah jika ingin menguasai bahasa asing. Tapi, jangan lupakan bahasa daerah sebagai akar bangsa kita.

Tinggalkan Balasan