Inilah salah satu penyebab kritisnya bahasa daerah kita. Hampir 700 bahasa di Nusantara adalah wujud kekayaan budaya dan kearifan lokal. Sayangnya lebih dari 100 bahasa telah mengalami kepunahan. Derasnya arus globalisasi menurunkan minat anak muda pada bahasa lokal, maka saatnya kita peduli untuk revitalisasi bahasa melalui karya.
Karya merupakan metode yang efektif untuk menghidupkan kembali minat belajar bahasa. Ada apa dengan karya? Bukankah lingkungan lebih efektif untuk revitalisasi bahasa.

Jadi begini, sekarang ini teknologi berkembang canggih dan serba cepat. BBC News bersabda bahwa rata-rata per hari orang menghabiskan waktu hampir 60% di media sosial. Secara otomatis kehidupan kita sehari-hari disetir oleh konten-konten hangat di jagat maya. Dan tak dapat dimungkiri mau tak mau berkarya di media sosial adalah suatu keharusan dalam melestarikan budaya lokal. Misalnya lewat musik.
Musik merupakan alternatif belajar yang sangat menyenangkan. Didi Kempot lewat lagu-lagunya sukses bikin ambyar kawula muda. Stasiun Balapan, Suket Teki, Pamer Bojo, adalah contoh lagu galau yang sarat pesan. Dengan bahasa Jawa ngoko refleksi lagu patah hati itu memikat kaum muda untuk lebih mencintai bahasa daerah. Tak sedikit yang bersenandung lagu Om Didi tesebut hingga muncullah hastag-hastag lirik lagunya di kanal media sosial.
