Di sebuah sudut pesantren tua di Banten pada akhir abad ke-19, seorang santri muda bernama Achmad Djajadiningrat duduk bersila. Di hadapannya terbentang sebuah papan kayu berukuran sebesar kertas folio. Papan itu dilengkapi benang-benang tipis yang terbentang rapi membentuk garis-garis horizontal. Di tangannya, sebatang pena bambu yang diruncingkan. Di sampingnya, sebuah balok kecil berisi tinta hitam pekat hasil racikan jelaga dan getah pohon.

Dengan penuh khidmat, ia meletakkan selembar kertas di balik benang penggaris itu. Satu per satu, huruf Arab mengalir dari ujung penanya. Tulisan rapi tersusun mengikuti panduan benang. Inilah cara santri menulis sebelum era buku cetak dan pulpen modern. Inilah revolusi dari papan tulis kayu yang kini hampir punah dari ingatan kolektif kita.

Lawh dan Mistharah: Teknologi Menulis Abad Pertengahan
Papan kayu yang digunakan Achmad disebut lawh atau dalam bahasa Belanda kolonial dicatat sebagai schrijfgerei van den santri (alat tulis santri). Alat ini terdiri dari papan kayu berukuran sekitar 30×40 sentimeter, sedikit lebih besar dari kertas folio biasa. Papan ini memiliki permukaan yang halus dan dibingkai dengan kayu yang lebih tebal di setiap sisinya.
Yang membuat lawh istimewa adalah benang-benang tipis yang dipasang secara horizontal. Benang ini disebut mistharah, berasal dari kata Arab yang berarti penggaris atau garis panduan. Fungsinya sangat penting: membantu santri menulis dengan rapi dan proporsional. Saat akan menulis, santri akan meletakkan selembar kertas tipis di balik benang mistharah. Benang-benang itu tampak sebagai garis bayangan di balik kertas, menjadi panduan untuk menulis lurus dan rapi.
Menurut dokumentasi dari buku memoar Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat yang belajar di Pesantren Karundang Serang pada dekade 1880-an, sistem ini adalah standar baku di pesantren-pesantren Nusantara kala itu. Foto yang diabadikan menunjukkan dengan jelas papan kayu dengan mistharah beserta pena dan wadah tinta. Ini adalah bukti visual bahwa teknologi sederhana ini tersebar luas di dunia pesantren tradisional.
Qalam Bambu dan Tinta Jelaga
Pena atau qalam yang digunakan santri bukanlah produk pabrik. Mereka membuatnya sendiri dari bambu atau pelepah daun aren yang diruncingkan. Proses pembuatan qalam adalah bagian dari pembelajaran santri. Bambu dipilih yang tidak terlalu tua agar tidak rapuh, namun tidak terlalu muda agar tidak mudah bengkok.
Ujung bambu diruncingkan dengan pisau kecil, kemudian dibelah sedikit di tengahnya untuk menciptakan kanal tinta. Teknik ini mirip dengan pembuatan pena bulu (quill) di Eropa abad pertengahan. Bedanya, santri menggunakan material lokal yang mudah ditemukan di sekitar pesantren.
Tinta adalah elemen krusial lainnya. Santri membuat tinta sendiri dari jelaga atau arang yang dihaluskan. Jelaga ini berasal dari pembakaran bambu, kayu, atau lampu minyak. Jelaga yang terkumpul kemudian dicampur dengan getah pohon tertentu atau air perasan tebu untuk menciptakan konsistensi yang tepat. Campuran ini menghasilkan tinta hitam pekat yang tahan lama, tidak mudah luntur meski kertas terkena air.
Ada juga tinta yang dibeli di pasar dalam bentuk padat, belum dicairkan. Santri akan mencairkannya dengan air secukupnya sebelum digunakan. Tinta ini disimpan dalam balok kayu kecil yang dilubangi, berfungsi sebagai tinta pot tradisional. Ketika menulis, santri akan mencelupkan ujung qalam ke dalam tinta, lalu menuliskan huruf demi huruf dengan hati-hati.
Kertas dan Kayu Jati
