Kertas yang digunakan santri tempo dulu tidak sembarangan. Sebagian menggunakan kulit hewan yang disamak dan dihaluskan, seperti tradisi naskah kuno di berbagai peradaban. Namun sebagian besar pesantren di Jawa dan Sumatra menggunakan kertas impor dari Eropa dan Cina yang mulai masuk melalui jalur perdagangan.
Ada juga tradisi menggunakan kulit kayu sebagai media tulis, seperti yang dilakukan suku Batak dengan pustaha laklak mereka. Pustaha ditulis di atas kulit kayu alim yang dikupas, diolah, dan dilipat menyerupai buku. Kulit kayu ini bisa mencapai panjang 7 meter dan lebar 60 sentimeter. Media ini lebih tahan lama dibanding kertas biasa, terbukti ratusan pustaha masih tersimpan di museum hingga kini.

Untuk papan tulis di kelas, pesantren memanfaatkan kayu jati yang melimpah di Jawa. Penelitian tentang pesantren di Senori, Tuban, mengungkap bahwa bangunan pesantren, madrasah, meja, kursi, hingga papan tulis semuanya terbuat dari kayu jati. Kayu jati dipilih karena kuat, tahan rayap, dan memiliki tekstur halus yang cocok untuk berbagai keperluan.
Untuk papan tulis portabel, santri juga menggunakan kayu pulai (Alstonia scholaris) yang lebih ringan. Kayu pulai dikenal sebagai bahan baku papan tulis tradisional karena permukaannya halus dan ringan sehingga mudah dibawa ke mana-mana.
Bunyi Qalam Sampai Langit Ketujuh
Aktivitas menulis di pesantren bukan sekadar kewajiban akademis. Ia adalah ibadah dan bentuk penghormatan pada ilmu. Para kiai dan santri senior memilih menulis di malam hari, terutama setelah salat isya hingga menjelang subuh. Ada semboyan indah yang beredar di kalangan santri: “Bunyi qalam di atas kertas pada malam hari akan terdengar sampai langit ketujuh.”
Semboyan ini bukan sekadar metafora, tetapi refleksi spiritual yang dalam. Menulis ilmu dianggap sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Setiap goresan pena adalah sedekah ilmu. Maka tidak heran jika para ulama seperti Syekh Mahfudz al-Tarmasi, Nawawi al-Bantani, dan Ihsan al-Jampasi menghabiskan sebagian besar hidupnya menulis kitab.
Kiai Bisri Mustofa, ayahanda Gus Mus, adalah contoh nyata produktivitas era pra-digital. Dengan qalam bambu dan tinta jelaga, ia menghasilkan puluhan kitab syair berbahasa Jawa seperti “Mitra Sejati” dan “Ngudi Susilo“. Bahkan lagu Tombo Ati yang populer hingga kini adalah adaptasi dari karyanya. Semua ditulis dengan tangan, tanpa mesin ketik, tanpa komputer.
Etika Menulis: Tinta Merah Dilarang
Tradisi menulis santri tidak hanya soal teknik, tetapi juga etika dan adab. Ada aturan tidak tertulis yang diwariskan turun-temurun. Salah satunya adalah larangan menggunakan tinta merah untuk menulis ilmu. Imam Az-Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’alim menjelaskan bahwa tinta merah adalah kebiasaan para filosof, bukan tradisi ulama salaf.
Tinta hitam dipilih karena dianggap lebih khusyuk dan menghormati ilmu. Warna hitam juga lebih tahan lama dan tidak mudah pudar. Santri diajarkan untuk memilih pena yang tajam ujungnya agar tulisan rapi dan mudah dibaca. Ini penting karena kiai sering membaca sangat cepat saat mengajar, dan santri harus menulis dengan cepat pula.
Posisi tubuh saat menulis juga penuh makna. Santri duduk dengan punggung membungkuk, kepala menunduk ke arah kitab. Posisi ini bukan hanya ergonomi, tetapi juga simbol ketundukan pada ilmu dan guru. Membungkuk saat menulis adalah wujud adab, penghormatan pada pengetahuan yang sedang diterimanya.
Dari Lawh ke Laptop: Apa yang Hilang?
