Revolusi Papan Tulis Santri: dari Kayu sampai Gadget

Kini, di era digital, santri menulis dengan laptop dan smartphone (gadget). Aplikasi Qur’an digital menggantikan mushaf tulis tangan. E-book menggantikan kitab kuning. Kecepatan dan efisiensi meningkat drastis. Satu kitab yang dulu perlu berbulan-bulan untuk disalin, kini bisa di-download dalam hitungan detik.

Namun ada yang hilang dalam transisi ini. Intimasi antara santri dengan teks berkurang. Proses menulis dengan tangan melibatkan seluruh tubuh dan pikiran, dan setiap huruf yang digoreskan adalah meditasi. Setiap kata yang ditulis adalah hafalan. Penelitian neurosains modern membuktikan bahwa menulis dengan tangan meningkatkan daya ingat dan pemahaman lebih baik dibanding mengetik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Lawh, mistharah, qalam, dan tinta jelaga adalah teknologi rendah dengan dampak tinggi. Alat-alat sederhana itu membentuk karakter kesabaran, ketelitian, dan penghargaan pada ilmu. Ketika santri menghabiskan berjam-jam menyalin satu halaman kitab, ia tidak hanya mentransfer informasi, tetapi mentransformasi diri.

Upaya Pelestarian: Museum dan Dokumentasi

Untungnya, tidak semua peninggalan ini lenyap. Museum Nasional Jakarta dan Museum Negeri Provinsi Sumatra Utara menyimpan ratusan naskah dan alat tulis tradisional. Ada lebih dari 200 pustaha laklak tersimpan di Sumut, dokumen berharga yang membuktikan kejayaan literasi Nusantara pra-kolonial.

Beberapa pesantren salaf seperti Tebuireng, Lirboyo, dan Langitan masih mengajarkan metode menulis tradisional sebagai bagian dari kurikulum. Santri senior diajari membuat qalam sendiri dan meracik tinta alami. Ini bukan nostalgia, tetapi upaya menjaga ruh keilmuan yang hampir punah.

Foto-foto langka dari era kolonial, seperti yang diabadikan dalam memoar Achmad Djajadiningrat, kini menjadi arsip berharga. Dokumentasi visual tentang lawh dan mistharah menjadi bukti bahwa peradaban santri Nusantara memiliki sistem pendidikan yang sistematis dan canggih untuk zamannya.

Pelajaran dari Papan Tulis Kayu

Revolusi dari papan tulis kayu mengajarkan kita bahwa teknologi bukan sekadar alat, tetapi juga pembentuk karakter. Lawh bukan sekadar papan kayu, tetapi simbol kesederhanaan dan fokus. Mistharah bukan sekadar benang, tetapi pengingat untuk tetap teratur dan disiplin. Qalam bukan sekadar pena, tetapi perpanjangan dari niat baik mencari ilmu.

Dalam dunia yang serba instan kini, kisah santri yang menulis dengan qalam bambu dan tinta jelaga mengingatkan kita pada nilai kesabaran. Mereka tidak mengeluh karena tidak punya buku cetak. Mereka tidak menyerah karena harus menyalin ratusan halaman dengan tangan. Justru, dari kesulitan itu lahir kedalaman pemahaman dan keteguhan karakter.

Maka ketika kita memegang smartphone untuk menulis catatan, atau mengetik di laptop untuk menyusun karya, ingatlah pada lawh dan qalam. Ingatlah pada bunyi gesekan pena di malam sunyi yang konon terdengar hingga langit ketujuh. Karena sejatinya, alat adalah sarana, bukan tujuan. Yang abadi adalah semangat mencari ilmu dan kesungguhan dalam belajar.

Sumber:

  • Jaringansantri.com – “Kitab Tasripan dan Potret Pesantren di Tatar Sunda Akhir Abad 19” (2021)
  • Islami.co – “Pesantren, Produktivitas dan Sastra” (2016)
  • NU.or.id – “Pesantren, Produktivitas dan Sastra” (2025)
  • Indonesia.go.id – “Rahasia Nenek Moyang Batak pada Pustaha Laklak”
  • IndoPROGRESS – “Di Bawah Naungan Pohon Jati: Fragmen Kehidupan di Pesantren” (2014)
  • Pondok Pesantren Al-Fattah – “Santri dan Pena” (2021)
  • WikiGambut.id – “Tumbuhan Pulai”

 

Tinggalkan Balasan