Rokat Pangkalan dari Perspektif Sosiologis Ali Syariati

Tradisi rokat pangkalan sudah ada sejak dahulu tetapi bentuknya sangat sederhana. Orang-orang dari suku Mandar, sebagai bagian dari nenek moyang orang Giliyang, sejak kali pertama sampai di Giliyang, mereka akan memberikan makanan (semacam sesajen) yang mana perbuatan tersebut dikayakini dapat mendatangkan keberkahan. Mereka menyebut tradisi ini dengan sutawil (aktivitas yang dapat mendatangkan bekerkahan dan keselamatan). Lama-kelamaan setelah akar religiusitas keislaman semakin menguat, para penduduk mengisi kegiatan rokat pangkalan dengan zikiran, doa bersama serta membaca ayat suci Al-Qur’an. Aktor-aktor penting di Giliyang dipelopori oleh orang-orang dari suku Mandar, Buton, dan Madura sendiri. Tokoh-tokohnya yang dikenal dan dikenang yaitu Andang Taruna (Buku’ Bucel), Dato’ Sirje (Katapang_Malengen).

Ada beberapa faktor mengapa rokat pangkalan begitu sakral bagi masyarakat Giliyang. Pertama, faktor internal, yaitu faktor yang lahir dari pribadi dan keyakinan masyarakat Giliyang sendiri. Bahwa, rokat pangkalan mereka yakini sebagai jalan untuk mendatangkan keberkatan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi masyarakat Giliyang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kedua, rokat pangkalan merupakan bentuk wujud syukur masyarakat Giliyang kepada Allah yang telah melimpahkan anugerah, dan rokat pangkalan termasuk bagian dari pelbagai jenis rokat yang ada dan dilestarikan oleh masyarakat Madhura pesisir. Karena itu, masyarakat akan sangat antusia dalam mengikuti ritual-ritual tersebut.

Prosesi ritual rokat pangkalan secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut. Pertama, para sesepuh setempat mulanya bermusyarah guna menentukan tanggal berapa ritual rokat itu dilaksanakan. Setelah harinya disepakati, lalu diumumkan ke penduduk setempat. Kedua, ritual rokat dilaksanakan selama 7 hari 7 malam. Di malam pertama, dibuka langsung oleh tetua di Dusun Katapang (sekarang Dato’ Suwahma) dengan memanjatkan doa, bertawassul kepada para Nabi, Sahabat, Auliya, serta para leluhur di tempat tersebut (Dato’ Sirje). Ketiga, setelah itu baca bait-bait zikir bersama-sama warisan Dato’ Sirje yang dipandu oleh satu orang.
Berikut ini bait zikirnya;

*Yong Diboyong*
Apora’a Kaule Atobet
Atobat Ka Kuste Allah
Allaila Ilaha Illallah

*Yong Diniyong*
Abinaka Nabiyullah Waliyullah
*Lailaha (*Illallah*)
Panobatan Ngathek Dunnya
Saning Allah Allahumma
Arep Kodep Nyajje’e Kenceng Orep, Orep Ingsun Saning Allah
Ya Allah Rasulullah

Tinggalkan Balasan