جُنُب وَنَحْنُ إِنَاءٍ وَاحِدٍ مِنْ وسلم عليه للَّهِ صلى للَّهِ وَرَسُولُ أَنَا أَغْتَسِلُ كُنْتُ
“Aku dan Rasulullah Saw mandi bersama dalam suatu wadah air/satu kamar mandi. Waktu itu kami berdua mandi besar (junub).

Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan:
Siti Aisyah mengatakan: “Aku dan Nabi mandi bersama. Kami saling menuangkan air. Nabi bilang: ‘biar aku yang memandikanmu’. Aku bilang: ‘biar aku saja yang memandikanmu.” Kedua suami istri itu berebut ingin memandikan pasangannya. Aduhai.
Kemesraan lain Nabi dengan istrinya juga terjadi pada saat makan dan minum. Nabi minum air bekas istrinya. Beliau meletakkan bibirnya di bagian gelas di mana bibir istrinya diletakkan di sana.
Ini disampaikan Siti Aisyah: “Aku minum. Lalu Nabi mengambil gelasku dan meletakkan bibirnya di tempat bibirku diletakkan di gelas itu, dan makan sisa daging yang aku makan dengan meletakkan mulutnya di bekas gigitanku.”
Lomba Balap Lari
Kemesraan atau romantisme Nabi juga terjadi dalam peristiwa lomba balap lari. Sayyidah Aisyah menceritakan: Aisyah ra, berkata: “Suatu ketika, aku dan Rasulullah dalam sebuah perjalanan bersama beberapa orang sahabat. Saat itu tubuhku masih ramping. Rasulullah Saw berkata kepada rombongan: ‘Ayo kalian maju!’. Mereka semua berjalan duluan. Setelah itu beliau berkata, ‘Hai Aisyah, sayang! Ayo, aku akan mengalahkanmu.’ Aku pun berlari dan berhasil mencapai finish lebih dahulu. Aku menang. Beliau senyum-senyum saja.”
“Pada kesempatan lain dalam perjalanan yang sama, Nabi mengajak lomba lari lagi. Saat itu badanku sudah lumayan berat. Beliau mengatakan kepada rombongan, ‘Ayo Maju!’. Mereka semua berjalan duluan. Setelah itu beliau berkata padaku, ‘Ayo kita mulai, aku akan mengalahkanmu.’ Aku pun mengejar beliau tapi beliau lebih dahulu sampai finish. Aku kalah. Beliau tertawa berderai-derai sambil berkata: Nah, kita draw ya sayang, 1-1. (HR. Ahmad (VI/39). An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, sanadnya shahih).
Nikah di Tengah Wabah
