Romantisasi Radikalisme dan Masalah Digitalisasi

Dulu, peranti teknologi di mata pondok pesantren adalah benda yang nyaris haram. Kini, tatapan pada peranti teknologi jauh lebih lunak. Divisi media, dan santri dengan kecakapan teknologi mendapat posisi emas. Mereka yang piawai kitab kuning dan hafal Al-Qur’an didorong untuk mengudara di dunia digital. Motifnya dari mulai dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, hingga menyebar konten positif.

Hal baru dalam tradisi digital ini adalah, terbiasanya laku kognitif dalam konsumsi informasi yang  singkat, terfragmentasi dan tersaji dalam bias algoritmik. Tulis menulis kemudian menjadi kurang relevan dibanding vlog dan konten visual. Di lain pihak, penggemar kegiatan tulis menulis memang ada, tapi kini banyak termotivasi sebagai reaksi dari kejadian di media sosial. Verba volant scripta manen, omongan menguap sedangkan tulisan adalah abadi, adalah pepatah yang tidak lagi relevan. Di era Big Data, apapun tenggelam dan dilupakan dalam sekejap.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tradisi digital mulai membiasakan santri pada konstruk kognitif yang tak nyaman dengan uraian panjang, mendalam, dan sistematik. Pesantren tidak bisa mengelak, karena cepat atau lambat, perubahan generasi dengan profil kognitif yang lebih berpihak teknologi akan masuk di pesantren.

Dampak lanjutannya terhadap individu adalah, munculnya berbagai macam romantisasi yang sama sekali tidak signifikan bagi kelanjutan dan nasib umat manusia di era digital. Misalnya, romantisasi kejombloan, romantisasi kemiskinan, fatalisme keterpinggiran ekonomi, romantisasi asmara/fertilitas yang tak tergapai, dan lain sejenisnya.

Romantisme-romantisme itu ada karena sebelumnya terisolasi oleh aturan maupun gaya hidup pesantren di era pra-digital, dan kemudian mendapat pembebasan ketika, katakanlah, Tik-Tok, Instagram, dan sejenisnya menawarkan logika penyajian informasi yang bisa diterima oleh banyak orang. Trivializing, atau ‘perecehan’, menjadi budaya baru yang semakin dominan.

Gambaran dari masalah struktural dan masalah kultural menyiratkan bahwa ada dimensi lain dari digitalisasi yang luput mendapat perhatian dari kalangan santri. Bila digitalisasi adalah masa depan sekaligus tulang punggung bagi kehidupan manusia, upaya telaah dan perhatian yang lebih universal perihal digitalisasi seharusnya menjadi salah satu prioritas, di samping peningkatan kecakapan.

Hal ini penting, karena konsekuensi dari bergulirnya masalah struktural dan masalah kultural adalah menyangkut ‘bentuk’ suatu masyarakat di masa depan. Bila imajinasi itu termakan oleh romantisme radikalisme, maka biarlah bentuk masyarakat itu ditentukan oleh kehendak elite teknologi dan serangkaian bias sosial yang terpantul dari algoritmanya. Tentu terbayang, akan seperti apa bentuknya?

Tinggalkan Balasan