Istri dan dua anaknya heran, karena bapaknya jarang sekali mengutarakan keinginannya. Mereka kemudian dengan seksama, mendengarkan dan menerka apakah gerangan yang selama ini menjadi ganjalan laki paro baya, dengan senyum tua nan sahajanya.
“Bapak ingin memperbaiki rumah. Bapak sungguh berdosa jika tidak mampu meneduhkan kalian dalam tempat yang layak. Tembok ini perlu diteruskan ke atas hingga pantas disebut dinding. Atap ini sudah bocor, lantai ini perlu dicor, tiang penyangga, kamar, dan lainnya juga perlu diperbaiki. Maka …”

Pak Giman menghela berkali-kali, seperti menahan keinginan kuat dan dosa yang teramat. Tentang hasratnya yang ingin membenahi rumah, agar tampak layak disebut rumah.
“Maka, bapak ingin menabung. Bapak ingin menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Kepada kalian, istri dan dua anakku, bapak meminta kita berhemat dalam mengisi perut. Usahakan, selama kita belum memiliki rumah idaman, kita akan berpantang memakan daging atau lauk yang mahal. Bersediakah kalian?”
Pak Giman menatap satu per satu keluarganya, dengan perasaan tidak tega. Belum cukupkah derita yang dihibahkan? Laki-laki macam apa aku? Suami dan bapak seperti apa? Urusan perut saja, tidak bisa mencukupi. Pak Giman menutup wajahnya nan menggurat lukisan kelelahan dan beban yang teramat dalam.
Dua anak dan istrinya terdiam sebentar, melihat bapaknya tidak berdaya, lusuh mengikuti garis hidup, jelas perjuangan tergurat. Si kecil Siti pun berteriak,
“Siap, bapak! Siti tidak akan jajan cilok lagi. Tidak akan minta ayam atau telur lagi. Siap makan nasi dan sayur bening. Tapi, kalau dadar jagung, boleh ya buk?” rajuk si kecil Siti dengan polosnya, sambil mengunyah tempe yang tinggal separo di tangannya.
Sang ibu tersenyum melihat tingkah lucu buah hatinya, “Insyaallah, Siti. Emak pasti buat lauk pengganti ayam dan daging. Emak nanti bikinkan perkedel uuenaakk, kesukaan Siti.”
Disambut sendawa yang keras dan panjang dari Siti. Semuanya saling berpandangan kemudian tertawa. Ah, petang ini Pak Giman mendapatkan kelegaan. Penerimaan dari keluarganya, untuk ngempet makan enak, demi merenovasi rumah, agar layak huni. Menjadi bahagia memang bukan urusan nanti. Seperti petang ini, Pak Giman tidak perlu menunda merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah ketika puas dengan apa yang dimiliki, bukan apa yang akan dimiliki nanti. Hanya, rumah layak huni sepertinya bisa menunjang kebahagiaan, pikir Pak Giman.
Semakin giatlah Pak Giman bekerja sebagai buruh. Ia berandai, jika hasil panen lebih, maka sang juragan akan memberinya bonus lebih. Imam, anaknya dibelikan dua kambing. Diamanahkan kepadanya, agar merawat dengan baik kambing-kambing itu, agar beranak-pinak untuk bisa dijual nanti. Demi rencana anggaran belajan renovasi rumah.
