Rumah Impian

Allah Maha Tahu, Maha Berkehendak, dan Sang Pemilik Takdir. Manusia hanya menjalankan dan mengambil hikmah. Karena ketentuan qadha dan qadar, semata milik Allah, manusia tak berhak mencampurinya. Berita duka. Pak Giman tidak menunjukkan tanda. Pagi ia masih giat bekerja, siangnya dibopong beramai-ramai oleh teman-teman buruh lainnya. Pak Giman dikabarkan terkena angin duduk, begitu kata teman-temannya. Istrinya meratap, Imam tersedu memandangi kambing pemberian bapaknya. Siti yang masih polos hanya membisu, tetap mengunyah perkedel kesukaannya.

Datanglah Saudara Pak Giman, Lik Pardi menemui istri Pak Giman yang sembab berurai, berderai, bertikai dengan dukanya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Sudahlah! Suamimu telah meninggal. Ia tak bisa kembali. Hentikan tangismu dan mulai layani para pelayat,” Lik Pardi membuka suara.

“Iya Lik, aku harus minta maafkan kesalahan suamiku kepada orang-orang. Agar kepergiannya tenang dan orang-orang bisa ikhlas memberikan maaf,” terbata dalam tangis istri Pak Giman menanggapi Lik Pardi.

“Selain minta maaf, layani mereka dengan jamuan, Yu. Mereka pelayat, bertakziyah, suguhi hidangan selayak adat kebiasaan kematian di kampung kita.”

“Suguh, Lik? Suguhan apa yang bisa aku berikan kepada pelayat? Sedangkan untuk makan kami sekeluarga, kami masih harus mengimpit dan melipat perut. Ini juga kami lakukan demi impian…”

“Impian apa? Jangan bermimpi! Orang fakir tidak pantas bermimpi. Simpan saja mimpimu. Layani dan suguhi tamu selayak kebiasaan kita. Jangan sampai mencoreng kelurga suamimu. Apa yang akan dikatakan orang nanti? Apa?”

Kultur yang dikultuskan. Kebiasaan yang harus dilaksanakan, begitu kata norma. Istrinya harus pasrah, membiarkan dua kambing yang betina meski sedang bunting untuk disembelih. Uang simpanan untuk renovasi rumah diambilnya demi menyuguh para pelayat. Istri Pak Giman memandangi Imam, dua kali kematian pada hari yang sama, satu bapaknya, satu lagi dua ekor kambingnya. Lebih menyayat lagi, melayat tak ubahnya dengan pesta makan. Berbagai suguhan dihidangkan, sambal goreng, daging kambing, roti, rokok, dan entah berapa ratus ribu dihabiskan.

Istri Pak Giman memeluk kedua anaknya, semakin berlinang air matanya, ia harus kehilangan suaminya tercinta, terlebih ia merasa mengkhianati, karena tak mampu mewujudkan impian suaminya untuk merenovasi rumah. Mereka yang telah berlama menahan makan dengan lauk yang mewah, menahan keinginan yang sekiranya berlebihan, demi impian merenovasi rumah, kini musnah. Sekadar untuk menggelar “pesta” takziyah.

“Sudah, jangan terlarut berduka kataku! Hari ini cukuplah untuk suguhannya. Persiapkan lagi suguhan tiga harinya, sepasaran tujuh hari sampai empat puluh hari. Persiapkan semuanya, ini juga demi kebaikan dan nama baik keluarga Giman,” Lik Pardi mengingatkan istri Pak Giman.

Tinggalkan Balasan