Dipeluknya erat Imam dan Siti, semakin keras istri Pak Giman menangis, namun kerasnya hanya mampu didengar batinnya. Pak Giman tiada, ke mana lagi ia harus mengempaskan tubuh ketika penuh beban? Kepada siapa ia kini harus menyandarkan kepalanya? Kepada siapa lagi ia harus berharap rumah bisa direnovasi? Suguhan dan jamuan rangkaian dari adat kebiasaan, ke mana lagi ia harus mencari. Istri Pak Giman semakin erat memeluk kedua anaknya, semakin deras pula air matanya berurai. Dadanya semakin sesak, terbebani jamuan kematian dan rumah impian.
