Ikan sibuk membungkus duka
dengan kantong plastik
Membawanya berenang
dari satu benua ke benua lainnya
air matanya mengalir,
bersama air yang menangis
tanah dan udara mengalun,
mengelus si air yang tengah bersedih.
Ombak yang kian menua, sakit
Awan yang beruban, menjadi renta.

“manusia itu petaka!”
petir menyambar dengan gelegarnya
Padahal di atas pijak tanah
Manusia sedang merayakan sengsara
Ia makan ikan berbungkus duka
Tanah Everest dan air Mariana yang berjaya menjadi layu
Mendengar kisah ikan
Burung-burung terbang,
menyampaikan pesan pada pegunungan
Ikan-ikan berenang,
mengabari lautan
satu kabar duka tersebar,
“bumi kita berakhir!” seru samudera
Ikan berpamit pulang pada samudera,
kembali pada keluarga yang tengah menunggu
di bantaran sungai.
Tak tahunya, keping-keping kematian
menemuinya tiba-tiba.
Belum sampai ia bersua, mati begitu saja.
Burung yang terbang, membangunkannya
Berharap si ikan akan hidup dengan napas buatan
Air samudera menghempasnya
Menuju sungai yang bertuan
Tuan manusia sedang menunggu ikan
Yang rela datang untuk dimakan
Tuan manusia gembira riang
“Pucuk dicinta, ulam pun tiba!”
Tuan lahap memakan ikan,
Sabda petir dan samudera telah murka
Menidurkan Tuan manusia
bersama ikan dalam piringnya
Selamanya
“Apakah tak ada kesempatan kedua untuk memperbaikinya?”
batin si Tuan di alam baka.
Malang, 25 Februari 2025.
SENYUM MANIS PADA ROTIMU
