Di jalan sunyi yang nyaris mati,
kutemukan roti pada perut
yang menyambung hidup.
Ia berkaus compang-camping,
menyisir jalan dengan gula.
Ia menabur manis di tiap sudut kota,
Namun para penduduk hanya diam
menatap angin.
Di bawah jembatan kayu,
ia berteduh, bersimpuh pada Tuhan.
Mendongak dan menengadah,
sesekali tersenyum dengan pipi lusuhnya.

Kulihat kembali,
ia sedang menciptakan surga
dari rotinya yang lugu.
Ia bangun dari duduknya,
menghampiri tangan-tangan kumal
dengan dawai lagu.
Tuhan tersenyum,
rupanya hendak mencicipi roti
yang tersimpan pada rekah tawanya.
Aku yang hanya duduk,
merapal doa untuk Tuhan,
“Jaga umur roti itu, untuk menyambung tawa esok lagi!”
Aku tertidur,
Dan malam berbisik padaku, bahwa anak itu pergi ke surga
Seraya melihat roti manisnya menunggu.
Malang, 23 Mei 2025.
RUMAH KALENG
Dalam riuh angin,
laki-laki dengan keriput kulitnya
masih berkeliling mencari kaleng.
Dipungut dan disusunnya kaleng-kaleng itu
pada karung putih yang tak kenal letih.
Tangannya selalu menggenggam butir harapan,
Yang hendak disuapkan
pada empat nyawa
yang tengah menunggunya pulang.
Terkadang hanya nasi kepal
dan sambal terasi
Untuk perut yang butuh isi
Si Bapak mengais rezeki
Penuh peluh yang tak kenal keluh
Si Ibu mengeja dompet yang kosong
Melompong.
Mereka simpan nasib
dalam kaleng rapat-rapat.
Suatu hari, si Bapak pergi
Jalanan sepi
Kaleng-kaleng raib, tiada lagi
Si Bapak mondar-mandir
Akhirnya menemukan kaleng lagi
Tak tahunya, si Bapak diujung mati.
Kaleng yang dipegangnya
merasakan hilangnya nadi.
Si Bapak telanjur membuka pintunya di surga
dan menemukan istana kaleng miliknya.
Malang, 23 Mei 2025.
