RUMAH MERAH, SEJARAH PULANG
Hari itu
aku datang ke sebuah Rumah Merah
rumah yang barangkali tak pernah menyangka
kelak namanya akan tinggal
di ingatan banyak orang

Di rumah itu
pernah lahir sebuah nama
—duniasantri
Bukan dari gemuruh panggung
tidak dari sorot kamera
melainkan dari percakapan
kegelisahan
dan orang-orang yang percaya
bahwa suara santri
layak menempuh jalan yang lebih jauh
Rumah itu milik Bisri Effendy
salah seorang yang menanam
sebuah keyakinan pada tanah yang sunyi:
bahwa perjuangan kadang
hanya bermula dari keberanian
untuk menulis satu kata
lalu menjaganya
agar tidak mati ditelan zaman
Malam itu kami kembali berkumpul
Tujuh tahun telah berjalan
Tujuh tahun sejak sebuah gagasan
meninggalkan rumah ini
dan berjalan dari satu pesantren
ke pesantren lainnya
dari tangan ke tangan
dari tulisan ke tulisan
dari seorang santri
kepada santri yang lain
Potongan tumpeng dibelah
Doa-doa dilangitkan
dan di antara wajah-wajah
yang pernah berjuang itu
sejarah seperti duduk kembali
di ruang tamu Rumah Merah
Mereka bercerita tentang masa lalu
dengan mata yang masih menyimpan cahaya
tentang nama-nama
yang mungkin tak lagi ramai disebut
tentang langkah-langkah kecil
yang dahulu tak pernah mereka kira
akan menjadi jalan panjang
Ada nostalgia
yang tidak ingin pulang
ada terima kasih
yang terlambat diucapkan
ada bahagia
karena sesuatu yang dulu hanya mimpi
ternyata tumbuh menjadi perjalanan
Dan aku
datang dari Tebuireng
dengan membawa nilai
yang juga mengajarkanku
bahwa sejarah bukan hanya sesuatu
yang dibaca dalam buku
Malam itu aku mengerti:
sejarah bisa jadi rumah yang masih berdiri,
kursi yang masih diduduki,
tangan yang masih berjabat,
dan orang-orang yang masih mampu
mengingat bagaimana semuanya bermula
Aku duduk di antara mereka
dengan dada yang penuh;
Haru,
karena Tuhan mengizinkanku
menyaksikan sebuah kisah
dari dekat.
Bangga,
karena ternyata aku datang
bukan hanya ke sebuah perayaan,
melainkan ke tempat
di mana sebuah perjalanan pernah dilahirkan.
Bahagia,
karena malam itu
aku tidak sekadar mengenang sejarah.
Aku berada
di dalamnya.
Kelak, mungkin
rumah merah ini hanya akan disebut
dalam beberapa baris buku.
Nama-nama mereka
mungkin perlahan menjadi catatan kaki
foto-foto malam ini
mungkin suatu hari menguning
tetapi malam itu aku tahu
sebelum sejarah menjadi tulisan
ia pernah menjadi manusia
Pernah menjadi keberanian
pernah menjadi persahabatan
pernah menjadi doa
pernah menjadi potongan tumpeng
yang dibagi dengan tangan-tangan
yang telah menempuh perjalanan panjang
Di Rumah Merah itu
aku belajar bahwa kita tidak selalu diberi kesempatan
untuk menyaksikan sejarah
ketika ia sedang lahir
Tetapi malam itu,
Tuhan memberiku kesempatan
untuk duduk di tengah mereka
orang-orang yang pernah menyalakan api itu
dan menyaksikan
sebuah perjalanan
yang kelak akan menjadi sejarah
yang begitu indah
Rumah Merah itu tetap diam
tetapi malam itu
dinding-dindingnya seperti berkata:
Pulanglah
Bawalah kisah ini bersamamu
Sebab sejarah tidak pernah benar-benar selesai
selama masih ada yang mau mengingat dan menjadikannya bagian.
SEMALAM DI RUMAH SAPARDI
Semalam
aku tidur di rumahmu, Pak Sapardi
di antara dinding yang pernah menyimpan
kata-kata yang mungkin
pernah kautulis
ketika malam sedang begitu sunyi
Aku datang sebagai pembaca
tetapi malam itu
entah mengapa
aku merasa seperti seorang peziarah
Bukan membawa bunga
bukan pula membawa cerita besar
hanya beberapa lembar Fatihah
yang kulafalkan pelan-pelan
agar jarak antara aku dan namamu
menjadi lebih dekat
Di rumah ini
aku membayangkan puisi-puisi itu
pernah lahir dari kesunyian
tumbuh di antara buku-buku
menunggu seseorang membacanya
bertahun-tahun kemudian
Dan malam itu
seseorang itu adalah aku
Aku menyentuh buku-buku
dengan perasaan yang sulit dijelaskan
Ada bahagia yang hampir menangis
ada haru yang diam-diam
menetap di dada
Sebab aku sedang berada
di tempat yang selama ini
hanya kukenal melalui kata-kata
Rumah ini sederhana
tetapi bagiku
ia seperti perpustakaan yang sedang berdoa
Setiap sudutnya
seolah menyimpan satu bait
setiap bukunya
seperti pintu menuju
Sapardi yang lain
Sapardi yang tidak pernah selesai
kutemui dalam puisinya
Malam semakin larut
Aku kembali melafalkan Fatihah
untukmu
untuk segala yang pernah kautulis
untuk kata-kata yang telah menemani
begitu banyak kesunyian manusia
Barangkali beginilah
wisata religi yang paling sederhana
datang dengan hati
lalu mendoakan seseorang
yang telah lama pergi
Dan beginilah
wisata puisi yang paling sunyi:
tidur di sebuah rumah
tempat puisi-puisi pernah dilahirkan
lalu terbangun
dengan perasaan
seolah baru saja membaca
sebuah sajak yang panjang
Aku tidak tahu
apakah rumah ini masih mengingatmu
Tetapi malam tadi
aku merasa
kau masih tinggal di sana
bukan sebagai tubuh
melainkan sebagai kata-kata
yang berserakan di antara buku
di udara,
di meja,
di kamar,
dan di kepala seorang pembaca
yang terlalu bahagia
karena akhirnya
bisa bermalam
di rumah penyair yang selama ini
hanya ia kenal
melalui puisi
Pagi datang perlahan
Aku hendak pulang
dengan membawa sedikit debu
dari rumahmu,
beberapa halaman dalam ingatan,
dan Fatihah yang semalam
tak henti-hentinya kulangitkan
Terima kasih, Pak Sapardi
Semalam saja
aku tidak sekadar membaca puisimu
Aku tinggal di dalamnya.
Ciputat, 18 Agustus 2026.
