Surabaya malam itu tak peduli dengan kesedihan Herman. Ia terus berjalan melewati gemerlap lampu-lampu neon hingga akhirnya sampai di sebuah taman kecil dekat Jembatan Merah. Taman itu, dengan bangku kayu yang sudah tua, menawarkan tempat yang tenang di tengah hiruk-pikuk kota. Herman duduk di sana, memandangi sungai yang mengalir di bawah jembatan, merenung dalam sunyi. Suara bising kota seolah lenyap, hanya tersisa angin malam yang berdesir lembut dan gemerisik daun-daun di sekitar.
Dari kejauhan, Herman mencium aroma jagung bakar. Bau itu langsung membawanya ke masa kecil, ketika kebahagiaan terasa begitu sederhana. Ia mengarahkan pandangannya ke arah penjual jagung yang sedang sibuk memanggang di atas arang yang membara. Pria tua itu mengenakan topi lusuh dan baju yang sudah memudar warnanya. Namun, senyum ramah di wajahnya seolah menerangi kegelapan malam.

Kini sepekan dari penyitaan aset karena dirinya habis-habisan mengeluarkan harta untuk memulihkan citra dirinya, yang ternyata semua telah usai. Apa yang terjadi? Semua sia-sia. Kini Herman tak lebih dari tunawisma yang nampak gurat kelaparan di wajahnya. Sama sekali tak nampak lagi wajah angkuh yang khas darinya. Wajah cerah, optimistik, dan culas tak lagi berbekas, sebagaimana gambar-gambar di koran.
Dari dekat gerobak jagung bakar, sang penjual merasa ada yang memerhatikan. Dirinya paham, kalau ternyata pria lusuh yang duduk di bangku taman tak jauh dari tempatnya berjualan, dari tadi terus mengamatinya. Penjual itu beberapakali melihat gelagat pandangan nanar Herman yang menatap sayu ke arah jagung-jagung yang dibakarnya.
Merasa risi terus diperhatikan, akhirnya sang penjual menghampiri Herman sambil membawa sebilah jagung bakar yang masih panas. “Mas, lapar? Makan dulu aja, nggak usah bayar,” katanya lembut.
Herman menatap jagung itu dengan ragu, tetapi akhirnya menerimanya dengan tangan gemetar. “Terima kasih,” ujarnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
Dengan lahap Herman nampak rakus memakan jagung bakar yang hanya seharga sepuluh ribu rupiah. Sebuah makanan yang selalu ia hina saat kementerengan masih ia jajagi. Kini, dirinya baru merasakan esensi kenikmatan dari sebuah sajian sederhana. Setiap gigitan jagung itu membangkitkan kenangan masa lalu, masa ketika hidup terasa lebih sederhana, lebih bermakna. Saat Herman masih anak-anak, kebahagiaan datang dari hal-hal kecil, bukan dari kekayaan atau prestise. Malam itu, di taman kecil di Surabaya, Herman merasakan perasaan damai yang sudah lama hilang dari hidupnya.
***
Waktu berlalu. Malam semakin larut, namun Herman masih duduk di sana. Pikiran-pikirannya melayang jauh, merenungkan sikap buruk yang telah khatam diperbuatnya. Keadaan ini seolah membayar impas atas keculasan, kerakusan, dan ketamakan yang ia lakoni. Pria penjual jagung kembali menghampirinya, kali ini membawa secangkir teh hangat.
