Padahal jika ditelisik lebih jauh, pondok pesantren mempunyai sejarah yang gemilang dalam mencerdaskan anak bangsa. Oleh karena itu, diperlukan revitalisasi nilai agar nantinya pondok pesantren tetap dijadikan lembaga terbaik dalam mengelola moral anak bangsa.
Pada buku Pesantren Sebagai Subkultur karya KH Abdurrahman Wahid dikatakan jika pesantren menjadi lembaga yang mempunyai pola kehidupan yang unik. Hal ini dapat dilihat dari tiga unsur, yaitu (1) cara hidup orang didalamnya (life pattern), (2) pandangan hidup dan tata nilai, (3) hierarki kekuasaan yang ditaati. Ketiganya menjadi ciri khas yang terus dijalankan dalam pondok pesantren untuk menunjang pendidikan.

Sehingga peran santri, kiai, dan ustaz akan terus berhubungan. Santri akan melaksanakan seluruh kegiatan yang ada dalam pesantren untuk menambah khazanah keilmuan dan memperbaiki tata laku. Kemudian ustaz sebagai pengajar akan mentransfer ilmu yang dimilikinya. Dan sosok kiai akan selalu menjadi teladan atas moral santri. Ketiganya akan saling berhubungan untuk membangun dunia pendidikan yang efektif, baik dari nilai spiritualitas, keilmuan, maupun moral.
Nilai-nilai luhur yang ada dalam pesantren sejatinya bersifat positif untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Dalam faktor historis saja, pesantren mampu menjadi salah satu tonggak kemerdekaan Indonesia. Dan dalam perkembangan zaman, adaptasi nilai yang dilakukan oleh pesantren, mampu menghantarkan lembaga tertua ini eksis sepanjang zaman.
