Rupanya tidak dekat-dekat amat. Perjalanan menuju Pondok Tebuireng ternyata memakan waktu. Meskipun pada akhirnya saya pun sampai di area pondok. Luas dan megah. Begitu kesan pertama kali saya melihat suasana sekitar. Pondok Tebuireng memiliki lahan yang cukup luas.
Kemudian saya menghubungi panitia. Mukhlisin menanyakan posisi saya. Kemudian saya dijemput ke lokasi yang saya beritahukan sebelumnya. Mas Chandra adalah orang menjemput saya menggunakan motor.

Tidak berapa lama kemudian saya bersua dengan teman-teman jejaring dunisantri, baik sebagai panitia maupun pemateri. Ada Mahwi Air Tawar, Mukhlisin, Hilmi Faiq, Mardi Luhung, Mas Aji, Raedu Basha, dan lain sebagainya. Alhamdulillah, saya berjumpa dengan orang-orang hebat di dalam dunia literasi.
Kamis, 21 Agustus 2025, ada tiga agenda yang akan dilaksanakan sesuai dengan rundown acara. Pagi jam 08.30 adalah penyampaian teknis penulisan esai atau artikel. Dalam hal ini disampaikan oleh Hilmy Faiq, direktur Kompas Minggu. Kemudian dilanjutkan dengan penyajian teknis penulisan cerpen yang disampaikan oleh Mahwi Air Tawar. Mahwi adalah penyair, cerpenis, dan esais yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan (literasi). Alhamdulillahi, saya mengikuti acara ini dari awal hingga selesai.
Sore di hari yang sama, adalah penyampaian terkait dengan etnografi sastra. Dalam hal ini disampaikan oleh Raedu Basha. Raedu adalah sastrawan, pencetus etnografi sastra nusantara. Raedu juga penulis aktif yang telah mendapatkan berbagai penghargaan dari hasil kreatif pemikirannya.
Jumat, 22 Agustus 2025 adalah workshop Dasar-Dasar Jurnalistik. Materi kegiatan ini disampaikan oleh Mukhlisin, Ketua Dewan Pengurus jejaring duniasantri. Saya berkesempatan mengikuti workshop ini dari awal hingga akhir. Sebuah kesempatan yang kemungkinan tidak akan terjadi di kemudian hari.

Keren Gus. Jaya selalu duniasantri. Semoga suatu saat saya dan para penulis yang berproses di jejaring dunia santri bisa berpartisipasi juga. Aamiin 🤲🏻
Terima kasih. Aamiin ya Robbal ‘Alamiin,,,