Sakralisasi Busana

Inilah yang menunjukkan betapa cairnya relasi antara agama dan budaya. Busana tidak pernah statis; ia selalu berubah mengikuti ruang dan waktu. Sakralisasi sering kali muncul bukan karena tuntunan teks, melainkan karena kebiasaan sosial yang kemudian diberi legitimasi teologis. Dari sinilah lahir pandangan reduktif: seolah-olah yang tidak berpakaian ala Arab berarti kurang Islami.

Proses ini perlu kita kritisi. Menganggap jubah dan sorban sebagai satu-satunya pakaian Islami bukan hanya menyalahi sejarah, tetapi juga menutup kreativitas budaya umat Islam. Justru dengan membuka ruang bagi keragaman busana, Islam bisa menunjukkan dirinya sebagai agama universal, yang mampu hidup dalam berbagai konteks budaya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Maka, jika kita ingin jujur, sakralisasi pakaian bukanlah perintah agama, melainkan hasil konstruksi sosial. Islam hanya menetapkan nilai dasarnya—aurat dan kesopanan—sementara modelnya bebas berkembang sesuai budaya. Jubah dan sorban bisa Islami, tetapi begitu pula batik, jas, atau sarung, selama ia memelihara prinsip yang sama.

Tinggalkan Balasan