Sambutan Kematian

Sekarang era digital yang jejaknya tak terbantah. Apa yang tepat kusampaikan dalam sambutan kematian nanti? Pikiran mendadak terasa bodoh.

***

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Tolong sampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya dari kami keluarga almarhum, Kiai. Terutama untuk almarhum, mohon dimaafkan segala khilaf dan dosanya,” tutur putra tertuanya padaku.

Aku hanya mengangguk. Diam-diam aku berpikir keluarga besar petinggi desa kami ini pastilah terpukul dengan meninggalnya almarhum. Selama ini, kenyamanan hidup mereka semua terjamin karena kekuasaan dan harta yang melimpah.

***

Jenazah masih berada di masjid. Penggalian makam belum selesai. Sebagian besar warga ikut menyalatinya. Termasuk yang kukenali sebagai orang-orang yang tak menyukainya. Mungkin hanya ‘membeli’ kesenangan keluarga almarhum. Bagaimanapun yang meninggal adalah orang nomor satu di desa kami.

“Kiai, tanah pemakaman yang digali bermasalah,” seorang warga tergopoh mengabari kami semua yang berada di masjid.

“Bermasalah bagaimana?” tanyaku.

“Penggali kubur menemukan tulang belulang di dalamnya. Jadi penggalian dihentikan.”

“Ya Allah. Bereskan dulu tulang belulang yang ditemukan itu. Tanam kembali dengan benar.”

“Apakah perlu menggali tanah lain, Kiai?”

“Tidak usah. Lanjutkan di tempat itu saja. Area makam di situ sudah penuh, kan?”

“Betul, Kiai.”

Aku merenung. Betapa nisbinya kekuatan manusia. Saat ia mati, tanah yang akan ia tempati sebagai liang kubur bukanlah mengkavling khusus dan istimewa hanya untuk dirinya semata. Tetapi berbagi dengan manusia lain yang mungkin pernah dizalimi dan dipecundanginya semasa hidup. Jika sudah mati, tak ada apapun lagi yang berarti. Harta sebesar dunia tak akan mampu menunda kematian seseorang yang ingin terus hidup.

***

Tibalah saat aku menyampaikan sambutan kematian.

“Saudara-saudara seiman seagama yang kami hormati. Atas nama keluarga besar almarhum, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada saudara sekalian yang telah ikhlas dan sudi mengantarkan ke peristirahatan terakhir. Dan tak lupa, permohonan maaf atas segala khilaf dan dosa almarhum, mohon dimaafkan.” Aku berhenti sejenak. Menelan ludah yang terasa sepat.

“Saudara-saudara sekalian, kita semua tahu bagaimana almarhum semasa hidup. Kita doakan semoga segala kebaikannya diterima di sisi Allah. Setiap orang, ketika sudah menghadapi kematiannya, maka hanya amal baiknya-lah yang akan menyelamatkannya. Tentu jika itu diterima oleh yang mahakuasa. Kami yakin, doa dari putra-putrinya yang saleh salehah juga menjadi jalan untuk meringankan bebannya di alam kubur. Kita semua akan menghadapi kematian, suatu hari nanti. Hanya menunggu giliran. Semoga khusnul khatimah. Aamiin!”

Aku bergenti sejenak mengusap keringat di wajah.

“Saudara-suadra sekalian yang kami hormati. Jika ada utang piutang dengan almarhum, mohon kiranya menghubungi keluarga almarhum. Begitu juga jika ada sesuatu apapun yang perlu diketahui keluarga almarhum, sampaikan saja. Keluarga akan mengurusnya untuk almarhum.”

Tinggalkan Balasan