Sambutan Kematian

Tiba-tiba seseornag menyeruak kerumuman orang-orang.

“Bagaimana jika almarhum punya utang nyawa?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Terkejut aku tak segera menjawab. Aku menoleh ke sekitar. Sebagian keluarga almarhum turut mengiringi upacara kematian ini. Wajah mereka tegang dengan kehadiran orang tak dikenal itu. Dan sebagian warga terlihat ingin tahu apa yang terjadi. Aku sendiri tak menyangka akan ada sesuatu seperti ini.

Aku menarik napas lega ketika dua orang warga mengajak orang yang baru datang itu ke bagian belakang kerumunan dan membawanya pergi.

“Mohon maaf saudara-saudara sekalian. Sebelum saya akhiri, mari kita sama-sama menjaga perasaan duka keluarga almarhum. Segala persoalan yang mungkin ditinggalkan almarhum, bisa disampaikan pada keluarga di rumah duka. Sekali lagi, mari kita doakan agar almarhum mendapat pengampunan dari Allah.”

Aku menutup sambutan kematian dengan doa.

Dan sebagian warga langsung bubar meninggalkan area pemakaman. Aku pun ingin segera menuju rumah, tapi putra almarhum menghampiriku.

“Kiai akan kami antar ke rumah, tetapi sementara mari ikut bersama kami ke rumah kami.”

Aku menolak dengan halus. “Nanti malam saya masih akan ke rumahmu untuk tahlil. Sekarang, biar saya pulang dulu.”

Laki-laki muda itu tak memaksa. Kemudian ia menyuruh salah satu orang kepercayaan ayahnya untuk mengantarku pulang ke rumah.

***

Hari yang berat bagiku. Di satu sisi aku tak ingin identik sebagai tokoh yang membela orang yang salah. Tetapi di sisi lain aku harus bersikap adil pada warga yang membutuhkanku.

Tak ada gunanya memusuhi orang yang telah mati. Dan pada akhirnya, kekuasaan setinggi apapun akan berakhir. Setidaknya aku bersyukur warga desa ini bisa tenang melalui hari ini. Bukankah kemuakan mereka telah menemukan ujungnya hari ini? Tetapi aku tak dapat mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.

***

Esoknya, seseorang yang telah memberi kejutan di tengah sambutan kematian di tanah pekuburan kemarin tiba-tiba mengunjungiku.

Ia langsung meminta izin menyapaikan sesuatu.

“Kiai, almarhum kepala desa yang kemarin meninggal pernah terlibat kasus pembunuhan.”

“Saudara mempunyai bukti terkait hal ini?”

Laki-laki itu mengangguk. Kemudian mengeluarkan ponselnya. Meminta izin memutar rekaman pembicaraan.

Suara yang kukenal sebagai suara kepala desa kami. Memerintahkan seseorang untuk membunuh. Aku tertegun menatap tamuku.

Tinggalkan Balasan