Panggung lalu berubah menjadi semesta kata. Sugat Ibnu Ali berdiri dan membacakan “Sajak Tahun Baru” karya W.S. Rendra. Larik-larik puisi itu terasa hidup, seakan menyatu dengan denyut malam Lenteng. Tepuk tangan mengalun panjang, bukan semata apresiasi, tetapi juga pengakuan atas kekuatan kata.
Sesi berikutnya diwarnai penampilan Gema Musical Anak Gemilang. Bunyi tasbih menggema di Pendopo Kecamatan Lenteng, menghadirkan puji dan kasih kepada Sang Ilah. Nada-nada itu mengalir lembut, menyentuh sisi batin para hadirin.

Khutbah kesenian yang disampaikan K Affan Adzim menjadi momen hening yang menggugah. Ia menyinggung bahwa sejarah kebudayaan lahir dari insting dan alam pikiran manusia, dan kegiatan malam itu merupakan manifestasi dari kerja kebudayaan itu sendiri. Ia mengingatkan bahwa budaya Madura tumbuh dari kedekatannya dengan laut dan tanah pertanian—akar yang harus terus dirawat.
Menurutnya, komunitas seni memiliki prasyarat yang tak bisa ditawar: berkarya, memublikasikan, mendiskusikan, dan membuka ruang apresiasi. Seni, katanya, tidak boleh terjebak pada euforia visual dan dokumentasi media sosial semata. Seni adalah keberanian menjaga nurani dan menyuarakan kebenaran. Sebab seni yang tercerabut dari nilai hanyalah gema kosong.
