Sanggar Gemilang: Ketika 21 Tahun Tak Sekadar Usia

Turmudzi Djaka kemudian melengkapi renungan itu dengan pemikiran mendasar tentang kerja kesenian. Ia menuturkan bahwa sejak lahir manusia telah dibekali hasrat seni—sering kali tak disadari—dalam pilihan-pilihan sederhana seperti memilih warna pakaian atau menentukan sikap hidup. Hasrat itu adalah rahmat Allah yang harus dilanjutkan dan dikembangkan. Tinggal manusia sendiri yang menentukan, apakah ia akan membiarkannya padam atau menumbuhkannya menjadi cahaya.

Di sela-sela pertunjukan, terasa jelas bahwa Sanggar Gemilang bukan sekadar komunitas, melainkan ruang belajar. Ruang di mana generasi muda dilatih untuk kreatif, berpikir, dan berani menyuarakan gagasan. Di tengah tantangan zaman yang serba instan dan mudah mengalihkan perhatian, Sanggar Gemilang memilih setia pada proses.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dua puluh satu tahun bukanlah usia yang pendek. Ia adalah bukti ketahanan, bahwa Lenteng memiliki denyut kebudayaan yang terus berdetak. Malam itu bukan sekadar perayaan hari lahir, melainkan pernyataan sikap: bahwa seni harus tetap berpijak pada nilai, berani bersuara, dan menjadi cermin bagi masyarakatnya.

Ketika acara usai dan lampu-lampu mulai dipadamkan, yang tersisa bukan hanya kenangan pertunjukan. Yang tinggal adalah keyakinan bahwa nyala itu masih ada—dijaga oleh tangan-tangan yang percaya bahwa seni adalah cara paling jujur untuk mencintai kehidupan.

Tinggalkan Balasan