kulihat matamu teramat beku
dicaruk bayangan yang menyimpan kenangan
membuat kau sesekali mendongak
melepas gumam-gumam luka ke dinding langit
lalu kembali menatapku, hendak mengatakan sesuatu
tentang sebuah kata yang masih beku di bilik bibirmu
dan sepertinya menjadi alasan
mengapa kini kau sering menemui matahari sendirian

dan pada akhirnya kutunjukkan sebuah bunga
kau tersenyum dan bibirmu terbuka mengucap iya
kuambil bunga itu dan kuberikan padamu
kemudian dengan lembut
tanganmu menyemat bunga itu di sanggulku
tiba-tiba kau sumringah
matamu cerah sebasah semangka
dan kau tak ragu berkata
“kaulah sebentuk wajah yang enggan pergi dari daun jendela”
SANGGUL API
ada gerai rambutmu
menapis gerimis
menjuntai ke bahumu sebagai kabar
dari tajam kesepian di sebuah pulau yang jauh
lalu rambutmu menangkis terik matahari
terberai di jarimu, dan ujungnya adalah catatan
kisah seorang bocah yang dihantam angin topan
di sebuah pulau yang juga jauh
kemudian angin bukit raas berayun-ayun
memintal cucuk dan konde
memilin rambutmu jadi sanggul sebesar kepalan tangan
di atas kepalamu mirip bulat batu pualam
berkilau dan melegam
sesekali tumbuh api, mengirim panasnya yang suci
jauh ke dalam tubuhku di sini
di pulau yang jauh
yang penuh angin topan
dan penuh tajam kesepian
